Diskusi Film dalam Roadshow Europe on Screen 2016

Diskusi film bersama sutradara Timo Tjahjanto (kiri), festival director Europe on Screen 2016 Orlow Seunke (tengah), dan moderator Amin Shabana dalam Europe on Screen 2016 Roadshow to Campus di Lecture Hall Universitas Multimedia Nusantara, Rabu (20/4).
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Acara roadshow Europe on Screen (EoS) 2016 yang digelar di Lecture Hall Universitas Multimedia Nusantara (UMN) pada Rabu (20/4) mengadakan sebuah diskusi terkait film dengan mahasiswa. Tak sekedar diskusi, acara ini memperkenalkan keberagaman serta genre-genre film yang tak umum di Indonesia.

“Pertama-tama, kalian harus belajar cara merakit sebuah film. Setelah itu baru mulai berpikir yang berbeda agar dapat membuat sesuatu yang baru,” terang festival director EoS 2016 Orlow Seunke.

Menurut Orlow, menonton film-film yang berbeda seperti film yang berasal dari Amerika Selatan atau Eropa dapat menjadi cara agar filmmaker dapat menghasilkan karya yang unik dan berbeda. Bukan dengan meniru hal-hal yang telah ada, namun mempelajari film-film tak biasa tersebut karena dari sanalah para filmmaker akan menemukan orisinalitas.

Sependapat dengan Orlow, sutradara film Rumah Dara Timo Tjahjanto mengatakan, untuk memperkaya pengetahuan mengenai film, dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan yakni menonton banyak film. Sedangkan untuk identitas film, Timo menyarankan agar para filmmaker muda tidak terlalu memikirkan untuk memuaskan selera pasar.

“Pikirkan dulu cara buat film bagus, masalah nanti pasar bisa terima atau nggak itu tidak harus menjadi beban. Biarlah film itu terjadi dulu, nanti dia akan menemukan identitasnya sendiri,” tutur Timo.

Timo juga mengatakan bahwa seorang filmmaker harus percaya diri, karena film yang dibuat berbicara sebagai bahasa dari filmmaker tersebut. Maka itu, penting untuk mengetahui suara yang hendak filmmaker sampaikan melalui genre filmnya.

Membuat sebuah film bukanlah sesuatu yang mudah. Dibutuhkan mental yang benar dan tujuan yang pasti dari sutradaranya. “Menyutradarai berarti memberi arahan jalannya sebuah film. Sebuah sutradara harus dapat mengatasi anak buahnya agar berjalan di arah yang sama, arah yang sebelumnya telah ia tetapkan,” ujar Orlow.

Selain diskusi film, roadshow EoS juga menayangkan film bergenre thriller atau Nordic noir yang berjudul The Keeper of Lost Causes, yang bagi Timo memang kurang diminati masyarakat Indonesia.

“Itulah mengapa festival film seperti Europe on Screen ini ada. Agar kita, para pencinta film, dapat menikmati dan mencerna film seperti yang berbeda seperti ini,” ujar Timo tersenyum.

 

Penulis: Valerie Dante

Editor: Alif Gusti Mahardika

Foto: Debora Darmawan