Tak Sekadar Aksi Cinta Lingkungan

Stand Bank Sampah yang berlokasi di gedung C UMN baru digelar pada 7 Maret 2016.
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Guna menumbuhkan rasa kepedulian mahasiswa terhadap sampah, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMN meluncurkan program baru bernama Bank Sampah. Program ini dimaksudkan agar mahasiswa dapat mencintai lingkungan di sekitarnya, dimulai dari lingkungan kampus.

Divisi Sains dan Sosial BEM Rifan Fransisco menjelaskan konsep Bank Sampah yang menggunakan sistem tabungan. Mahasiswa akan mendapatkan satu buku tabungan dan diperbolehkan mengumpulkan sampah sesuai dengan berat minimal yang telah ditentukan hingga November 2016. Sampah pun nantinya dikumpulkan dalam satu wadah, seperti plastik atau kardus.

Adapun jenis sampah yang dapat diberikan, di antaranya 2.5 kg gelas plastik , 3 kg botol plastik, 7 kg kardus, 4 kg ember melamin, 7 kg buku atau majalah, 7 kg kertas, 7 kg koran, 3 kg kaleng minuman, 4 kg kaleng biskuit atau susu, dan 3 kg kepingan CD. Ketentuan tersebut, lanjut Rifan, sewaktu-waktu dapat direvisi jika dianggap mudah atau mempersulit mahasiswa untuk mencapai target.

Dengan konsep tersebut, mahasiswa dapat mengumpulkan sampah tidak hanya dalam satu hari. Target nasabah (mahasiswa) untuk Maret 2016 diharapkan mencapai 50 orang.

“Mahasiswa bisa bawa setengah kantong plastik dulu. Selain itu, sampah yang dibawa bisa di mix, enggak hanya botol saja,” kata pria yang kerap disapa Rifan ini saat ditemui Ultimagz, Selasa (23/2).

Jika target terpenuhi, mahasiswa akan mendapatkan satu poin Satuan Kredit Kegiatan Mahasiswa (SKKM) bidang pengabdian pada masyarakat dan special gift. Menurut Rifan, BEM telah melakukan diskusi dan memberikan proposal kepada pihak Student Development terkait pemberian poin tersebut.

“Hasil usaha mereka dihargai SKKM. Nilai usaha yang konon tidak berharga menjadi bernilai,” ujar salah satu pihak Student Development, Ignatius De Loyola Aryo.

Sementara itu, pihak BEM berniat untuk membeli special gift di U-Store.

“Awalnya, special gift itu uang. Namun, harga jual dari sampah tersebut kan tidak banyak. Jadi, kemungkinan kita akan gunakan uang itu untuk membeli barang yang dijual di U-Store. Namun, soal hadiah masih belum ada kepastian,” jelas Rifan.

Salah satu mahasiswi Jurnalistik 2014 Gabriela mengaku telah mendaftar sebagai nasabah Bank Sampah. Ia menganggap bahwa pemberian SKKM dibenarkan lantaran ada batas minimal berat sampah. Dengan demikian, ada effort atau usaha lebih yang dikeluarkan oleh mahasiswa.

“Manfaatnya selain dapat SKKM itu bisa membangun kesadaran mahasiswa tentang sampah. Jadi pikirannya kalau lihat sampah berserakan ingin memungut untuk dikumpulkan,” kata Gabriela.

Perwujudan nilai caring

Aryo menjelaskan, Bank Sampah merupakan salah satu wujud penerapan 5C Kompas Gramedia, yakni caring. Program tersebut dilihat sebagai wujud nyata mahasiswa dalam mengupayakan kepedulian terhadap lingkungan.

“Mungkin mahasiswa biasa terlalu peduli terhadap sampah yang mereka buang setiap harinya. Dengan program ini diharapkan mereka lebih peduli lingkungan sekitarnya,” ujar Aryo.

Penulis: Christoforus Ristianto

Editor: Annisa Meidiana dan Lani Diana

Fotografer: Christoforus Ristianto

  • hmm

    Divisi sains dan sosial, min..