Memadukan Seni dan Teknik dalam Menggarap Film dan Animasi

Pemberian hadiah sebagai tanda terima kasih kepada Dita Gambiro dan Bony Wirasmono sebagai pembicara dalam seminar “Art For Film & Animation” sebagai rangkaian acara dari UCIFEST yang baru saja dimulai, Selasa (21/11/17) di Lecture Hall UMN.
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Penataan atau environtment set desain yang sesuai dengan tema dan berlandaskan seni merupakan hal penting dalam membuat sebuah film atau animasi. Seminar UCIFEST yang digelar pada Selasa (21/11/17) lalu mengulas hal tersebut dengan apik dalam acara bertajuk “Art For Film & Animation”.

Bertempat di Lecture Hall Universitas Multimedia Nusantara (UMN), UCIFEST menghadirkan dua pembicara yakni Bony Wirasmono (Animation Director dari The Little Giant Animation) dan Dita Gambiro (Art Director yang juga menjadi nominasi Penata Artistik Terpuji FFB untuk film Galih dan Ratna (2016)).

Bony mengungkapkan, environment dibuat setelah proses perancangan konsep. Konsep menarik itu terdiri atas development, pewarnaan, dan pencahayaan yang dirancang oleh concept artist dan telah disetujui oleh art director. Selanjutnya barulah proses animasi dimulai, salah satunya dengan membuat model environment.

“Antara desain yang pure art bertemu dengan animasi, which is lebih ke teknik. Art versus technical di sini,” ujar Bony yang sudah berkecimpung secara profesional di dunia animasi sejak tahun 2007 silam sebagai set dress artist.

Ia menambahkan, seni juga menjadi salah satu hal yang patut menjadi perhatian dalam mendesain animasi. Namun, sifat seni yang abstrak kerap menjadi masalah. Pasalnya, tidak semua seni dapat diterjemahkan atau diukur ke dalam sebuah nilai.

“Sifatnya tuh subjektif. Tergantung dari style-nya, style dari masing-masing director kalian,” imbuhnya.

Bony juga menjelaskan proses layouting yang dilakukan sebelum membuat animasi, seperti menentukan aset-aset dan properti yang harus digunakan.

Di sisi lain, Dita menjelaskan pembagian kerja art department dalam pengerjaan film. Ia pun berbagi pengalamannya saat proses syuting Galih dan Ratna.

Ketika mengerjakan toko ‘Nada Musik’ milik Galih, Dita memberi referensi properti yang sesuai dengan warna tembok dan properti lainnya. Semua detail kecil dalam toko seperti tulisan-tulisan genre musik dapat membangun karakter Galih.

“Jadi, segalanya harus jelas. Desain dan ukurannya tuh harus jelas kalau mau bikin, jangan terlalu abstrak. Nanti waktu sudah jadi malah enggak sesuai harapan,” jelas Dita.

Yang menarik, art director yang pernah menggarap film Posesif dan Ada Apa Dengan Cinta (AADC) 2 ini juga menampilkan karyanya berupa model real live action dari animasi Jepang Spirited Away. Berlatar belakang pemandian Hammam, Turki, Dita membuat maketnya secara manual. Bahkan ada beberapa tembok yang bisa diangkat sehingga director bisa melihat interiornya.

Saat ditanya soal kolaborasi antara film dan animasi, baik Dita maupun Bony sepakat memiliki keinginan besar untuk bekerja sama. Mereka mengaku selalu terbuka dengan semua kesempatan itu karena kolaborasi merupakan bentuk pengembangan industri.

Penulis: Nabila Ulfa Jayanti

Editor: Geofanni Nerissa Arviana

Foto: Billy Dewanda