Sempat Alami Gangguan Teknis, Teater KataK Sukses Hibur Penonton

Albert memaki Sergio setelah Sergio menceritakan bahwa dirinya bukan penjahat. Produksi Katak ke-53 bertajuk "Bebas" hari kedua diselenggarakan pada Jumat (8/12/2017).
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Meski sempat mengalami gangguan sound system, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater KataK tetap sukses menghibur penonton di hari terakhir pementasan bertajuk “Bebas”, Jumat (08/12/17). Produksi ke-53 Teater KataK tersebut diselenggarakan selama dua hari, yakni pada 7 – 8 Desember 2017 di Function Hall Universitas Multimedia Nusantara (UMN).

Masalah teknis itu terjadi saat pementasan babak kedua. Dengungan microphone terdengar di tengah berlangsungnya pementasan. Hal ini sempat membuat suara musik pengiring dan penyanyi tidak terdengar jelas. Tak hanya sekali, masalah serupa juga terjadi menjelang akhir pementasan. Namun, kejadian ini tidak mempengaruhi performa pemain dan tim musik pengiring.

“Bebas” menceritakan tentang Sergio yang harus mendekam di penjara bukan karena perbuatannya sendiri. Ia ingin melindungi istrinya Agatha dari hukuman atas perbuatan membunuh mantan sahabat yang pernah memperkosanya. Masalah ini membuat mereka terbelenggu dalam rasa bersalah.

Teater “Bebas” terbagi menjadi dua babak dengan jeda 15 menit. Mengusung konsep dengan latar penjara, Penulis Naskah Natasha Hadiwinata mengaku ingin menghadirkan suasana yang unik. Dalam penulisan naskah, ia ditemani oleh Ruth Helga yang pertama mencetuskan konsep penjara dalam teater yang mereka garap tersebut. Setelah mengusung tiga konsep berbeda, melalui diskusi bersama sutradara, mereka memutuskan untuk mengembangkan konsep tentang penjara tersebut.

“Pertamanya ingin bikin setting-nya yang unik, karena kan bosan kalau misalnya biasa aja,” ungkap Natasha ketika ditemui pada jeda pementasan.

Mendapat apresiasi meriah dari penonton, butuh waktu empat bulan bagi tim produksi untuk mempersiapkan naskah tersebut. Dalam proses pembuatannya, Natasha mengaku terinspirasi dari serial televisi berjudul Orange is The New Black. Serial tersebut memberi gambaran padanya tentang kekerasan yang kerap terjadi di dalam penjara.

“Kayaknya unik mengangkat kekerasan di penjara. Aku lupa antara aku atau Helga yang mencetuskan gimana kalau dibuat sebenarnya (tokoh utama) yang dipenjara ini enggak salah,” ujarnya.

Menurut Sutradara “Bebas” Cliff Moller, naskah pementasan ini menjadi salah satu skenario yang sulit untuk dipahami dalam waktu singkat. Butuh waktu bagi pemain menghayati alur dan benang merah cerita. Namun, mulai dari seleksi pemain hingga masa latihan dilakukan dalam waktu yang relatif singkat, di tengah kepadatan jadwal kuliah antar pemain dan menghasilkan pementasan yang memuaskan baginya.

Penulis: Anindya Wahyu Paramita

Editor: Geofanni Nerissa Arviana

Foto: Rafaela Chandra