Juri UCIFEST 8 Bagi Pengalaman dengan Sineas Lewat “Meet The Judges”

Talkshow "Meet the Judges" yang menjadi salah satu rangkaian acara UCIFEST 8 diadakan di Lecture Hall Universitas Multimedia Nusantara pada Rabu (23/11/17).
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – UCIFEST 8 mengadakan sebuah diskusi bertajuk “Meet The Judges” di Lecture Hall Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Kamis (23/11/17). Acara ini menjadi tempat di mana para juri dari UCIFEST 8 berbagi cerita lewat pertanyaan dari para sineas yang datang.

Rangkaian acara ini dihadiri oleh tiga dari lima juri UCIFEST 8, di antaranya pendiri Lanting Animation Studio and Workshop Firman Widyasmara, Produser Serial Animasi Didi Tikus Chandra Endropoetro, dan salah satu lulusan Insitut Kesenian Jakarta Orizon Astonia yang filmnya telah diputar di berbagai festival film nasional dan internasional.

Orizon Antonia, Firman Widyasmara dan Chandra Endoputro (kiri-kanan) yang menjadi pembicara diskusi bertajuk “Meet The Judges” dalam rangkaian UCIFEST 8, Rabu(23/11/17) di Lecture Hall Universitas Multimedia Nusantara (UMN).

Para juri yang hadir turut membagi cerita selama mereka berada dalam dunia animasi dan film. Salah satu pembicara, Chandra Endropoetro, menekankan cerita tentang perkembangan teknologi dunia animasi 3D di zaman sekarang.

“Di tahun segitu, teknologinya itu coba kalian bayangin deh, itu yang namanya nge-render itu ditinggal pulang seminggu. Jadi kalau kita nge-render 30 detik, itu kita pulang seminggu, libur,” tuturnya.

Ia juga berbagi cerita tentang film animasinya yang berjudul Janus: Prajurit Terakhir. Dalam film tersebut, Chandra memilih karakter sebuah robot yang dinilai mudah untuk dieksekusi. Menurut Chandra, apabila tokoh film itu dibuat seperti animasi film Monster Inc., film tersebut mungkin telah selesai 5 tahun yang lalu.

Selain Chandra, Firman Widyasmara juga bercerita tentang bagaimana teknologi animasi pada saat zamannya. Namun, Firman mengaku teknologi di zaman sekarang sudah lebih dahsyat dari zaman sebelumnya.

“Menurut saya sih, tantangan utama menjadi animator, kita harus menjadi observer. Observe sama sekitar, problem solving­-nya harus keren banget, terus ya timeline, deadline” ujar Firman.

Timeline dan deadline, lanjutnya, merupakan langkah pertama yang akan para animator temukan, bahkan sebelum ke dunia luar. Firman menekankan, jika ada ide untuk membuat sebuah film animasi, jangan pernah ditunggu-tunggu lagi.

Orizon Astonia yang pernah menjadi mahasiswa institut kesenian pun berbagi ceritanya tentang kebingungannya dengan film, yaitu di mana sudah banyak film-film yang bagus dan membuatnya bingung untuk membuat film apa lagi. Namun, hal itu dianggap Orizon pula menjadi tantangan.

“Film itu menjadi suatu yang menyenangkan ketika bertemu dengan penonton,” ujar Orizon.

Orizon mengakui bahwa film itu memang harus bertemu dengan penonton. Karena hal itu menjadi dunia yang ada setelah proses pembuatan film, lalu dengan menonton film yang dibuat, para pembuat film tentu akan mendapat pembelajaran yang dapat mereka gali lebih lagi.

Acara Talk Show ini berlanjut sangat panjang dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Sineas yang hadir. Selain itu, trailer film dan animasi dari ketiga juri juga sempat diputarkan di tengah-tengah acara untuk memperlihatkan karya-karya luar biasa dari ketiga juri ini.

Penulis: Rachel Rinesya Putri

Editor: Hilel Hodawya

Foto: Daniela Dinda