Mapala UMN Ajak Anak Muda Peduli Pesisir Pulau Indonesia

Poster forum diskusi yang digelar oleh Mapala Universitas Multimedia Nusantara sebagai rangkaian acara dari Action with Mangriove 3 di Function Hall, Jumat (5/05/17).
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pecinta Alam Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Mapala, menggelar forum diskusi untuk acaranya yang bertajuk Action with Mangrove 3, di Function Hall UMN, Jumat, (05/05/17). Mengangkat tema Anak Muda dan Kepedulian Terhadap Pesisir Pulau Indonesia, forum diskusi mengundang dua narasumber yang memang berkecimpung di dunia lingkungan.

Dibuka dengan sambutan dari kemahasiswaan Aryo Gumilang, acara ini dihadiri oleh Greenpeace Ocean Campaigner Arifsyah M. Nasution dan Asisten Deputi II Kantor Staff Presiden yang sekaligus mantan pembawa acara Jejak Petualang Chintya Tengens sebagai pembicara. Forum diskusi Action with Mangrove 3 juga mengundang tiga komunitas pecinta alam dari luar UMN antara lain Sobat Bumi Indonesia, HiLo Green Community Tangerang, dan Kemangteer.

“Ini merupakan acara rutin yang digelar Mapala setiap dua tahun sekali sejak 2013. Kita memilih tanaman mangrove sebagai kampanye utama kami karena selain tema acara yang tidak biasa di kalangan mahasiswa UMN, mangrove juga merupakan salah satu tanaman yang bisa mencegah abrasi yang terjadi di pantai-pantai Jakarta maupun kepulauan,” ujar Ketua Action With Mangrove 3 Varian Jonathan.

Tempat yang disasar oleh Mapala UMN di tahun ketiga ini adalah Pulau Panggang, salah satu pulau terpadat yang berada di Kepulauan Seribu. Dengan jumlah populasi yang tidak sebanding dengan luas wilayahnya, Pulau Panggang kini mengalami krisis air bersih akibat tercampurnya air laut dengan air tawar akibat hilangnya tanaman mangrove yang menjadi penyaring air laut, tergantikan oleh bangunan-bangunan tempat manusia tinggal.

“Pulau Panggang kini terancam abrasi karena kurangnya tanaman bakau. Mereka memiliki tanaman ini, namun masih sedikit dan kecil, sehingga abrasi menjadi tidak terkendali dan juga krisis air bersih karena tidak adanya penyaring air laut. Selain itu juga isu abrasi sudah lama, dan kita ingin mencegah keadaan itu semakin parah dan salah satu fungsi tanaman bakau ini adalah mengendapkan pasir, istilahnya reklamasi alami oleh alam,” tambah Varian lagi.

Dengan adanya endapan pasir yang bisa tertahan oleh tanaman bakau, kelurahan Pulau Panggang ingin membangun Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di atas wilayah reklamasi alami itu.

Aksi penanaman bakau akan dilaksanakan pada Minggu, (07/05/17) nanti akan diikuti oleh staff dari Student Development dan aktivis pecinta alam Mapala dan mahasiswa yang mendaftar dan mengambil bagian dalam Action with Mangrove 3. Selain menanam bakau, Mapala juga ingin mengajak para mahasiswa yang ikut untuk bersantai sejenak dari kepenatan sehari-hari yang membosankan.

“Gue pengen peserta tuh nggak cuma tahu mereka mau cari SKKM atau mau seneng-seneng, tapi dari seneng-seneng itu mereka sadar kalau alam semakin rusak tiap hari dan merasa harus ikut berkontribusi, bukan cuma seneng-seneng doang, tapi malah mereka mau buat selanjutnya lebih menjaga lingkungan sekitar,” ujarnya menutup wawancara.

Penulis: Stefanny

Editor: Kezia Maharani Sutikno

Foto: instagram.com/mapalaumn