Pentas Inaugurasi KataK Hadirkan Akhir Cerita Alternatif

Felyssa Lim (kiri) bermain sebagai Charlotte dan Habel Elia (Kanan) sebagai Sir Eustache berlakon dalam Pentas Inagurasi Teater Katak "Suara Sirkus Grenoille" hari pertama pada Senin malam (13/11) di Function Hall UMN
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Pentas hari pertama Inaugurasi Teater Katak bertajuk Suara Sirkus Grenoille digelar di Function Hall Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Senin (13/11/17) malam. Mencoba menyuguhkan sesuatu yang berbeda, produksi ke-52 ini memiliki dua akhir cerita alternatif yang berbeda antara hari pertama dan keduanya. 

“Sebenarnya ini ide dari Kak Dana (sutradara). Dia ingin mencoba sesuatu yang baru, yang belum pernah dicoba di KataK dan memang bisa dicoba hanya saat inaugurasi,” ungkap Pemimpin Produksi Suara Sirkus Grenoille Gabriella Adinda

“Dan ternyata itu menarik juga untuk dicoba. Jadilah kami memutuskan untuk buat dua ending yang berbeda.” 

Pertunjukan berdurasi satu setengah jam ini berkisah tentang sang tokoh utama, pemilik Sirkus Grenoille Monsieur Fletcher.

Berusaha mempertahankan idealismenya untuk membahagiakan penonton sirkus dari Madame Beau yang ingin mengubah sirkusnya menjadi lahan uang, sirkus terpecah menjadi dua kubu. Para pemain sirkus yang ingin mempertahankan idealisme tersebut dan menghibur penonton dan penonton sirkus yang hanya mementingkan uang. 

Seluruh pemain merupakan mahasiswa angkatan 2017 dari berbagai program studi. Satu setengah bulan dihabiskan mereka dan tim produksi untuk melakukan latihan.

“Maksud utama dari pementasan inaugurasi ini adalah sambutan selamat datang untuk para mahasiswa terutama mahasiswa baru yang bergabung dalam KataK. Jadi kayak semacam pentas angkatan dan menjadi pementasan tahunan. Makanya semua yang berpartisipasi adalah maba (mahasiswa baru) karena ini pementasan milik mereka dan untuk mereka,” jelas Gabriella.

Seperti pementasan-pementasan sebelumnya, KataK menyelipkan pesan moral di Suara Sirkus Grenoille ini. Gabriella menuturkan bahwa pesan yang ingin disampaikan adalah bersyukur atas apa yang kita punya. Demikian juga dengan kebahagiaan yang merupakan milik kita dan tidak dapat dipengaruhi apapun. 

“Mungkin ya kadang, kita lupa siapa kita dan kita suka menginginkan yang lebih dari apa yang kita punya. Kita perlu diingatkan, bahkan jika perlu ditampar untuk mengerti. Tamparan itu bisa datang dari lingkungan, teman atau bahkan Tuhan,” tutup Gabriella. 

Penulis: Stefanny

Editor: Christian Karnanda Yang

Foto: Roberdy Giobriandi