Semangat Independen dan Kedalaman dalam Film Indie

Zidny Nafian selaku pembicara dalam Diskusi Jumat yang diselenggarakan oleh ULTIMAGZ, bertemakan "Perkembangan dan Masa Depan Perkembangan Film Indie di Indonesia", di Kantin Gedung C, Universitas Multimedia Nusantara, Jum'at (27/5).
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – “Diskusi Jumat” ULTIMAGZ kembali hadir, kali ini dengan tema ‘Perkembangan dan Masa Depan Film Indie di Indonesia.’ Berlangsung di Kantin Gedung C Universitas Multimedia Nusantara (UMN), hadir Zidny Nafian, pegiat film yang juga alumni UMN yang sudah mendapat penghargaan di berbagai festival film, serta Jonathan Manullang selaku juru program komunitas film indie Sinema Rabu. Di kesempatan ini, Zidny yang akrab disapa Ziduy mengatakan bahwa film indie memiliki semangat independen dalam proses pembuatannya, dan memerlukan kedalaman di dalam kontennya.

Pada awal acara, film-film karya Ziduy seperti Haryo dan It’s Not Here Anymore diputarkan.

Kemudian, Ziduy sebagai pembicara pertama berpendapat bahwa sebutan “indie” merupakan sebuah semangat independensi dalam berkarya, dan tidak hanya di bidang perfilman. “Indie lebih ke semangat sih, semangat ketika lo mau bikin something, lo mau bikin karya, entah film, musik, atau desain, atau lukisan, indie tuh semangatnya, semangat independen,” jelasnya.

Bagi dirinya, semangat independen itu timbul karena keinginan untuk bisa bebas berkarya. “Gue gak mau diatur-atur oleh misalkan kampus, gue gak mau diatur-atur sama orang tua gue, gue gak mau diatur sama diri gue sendiri, gue gak mau diatur sama perintah-perintah industri yang terlalu kejam,” paparnya.

Ia juga melihat bahwa semangat indie mulai menular ke orang-orang selain pembuat film itu sendiri, seperti ke penonton dan penikmat film indie. Menurutnya, hal ini meningkatkan perkembangan film indie, terlihat dari mulai banyaknya komunitas-komunitas film indie di berbagai daerah di Indonesia.

Tidak hanya independensi, menurut Ziduy, jiwa dari pembuat dan kedalaman konten film juga menjadi unsur yang penting dalam pembuatan film. Ia sendiri merasakan hal tersebut ketika dalam proses pembuatan film Haryo.

Ziduy mengatakan, membuat film indie tidak sekadar membuat film yang ingin ditampilkan di dalam festival dan mendapatkan penghargaan. “The power of soul dalam berkarya lebih penting dibandingkan lo bikin film, bikin karya untuk dapetin sesuatu,” ujarnya.

Sedangkan menurut Ziduy, penting bagi sebuah film untuk memiliki kedalaman. “Karena itu kontennya sebuah karya. Kalo lo cuma bikin film yang di permukaan, ya mungkin keren, mungkin bagus, cuma lo gak ada pendalaman, gak ada soul-nya gitu. Teoritis banget dan gak nyaman,” ujar alumni UMN jurusan Sinematografi ini.

“Diskusi Jumat” kali ini juga membahas hal lain seputar perkembangan film indie di Indonesia, seperti dukungan pemerintah terhadap film indie, kritik terhadap industri film mainstream, serta karya-karya dari kedua pembicara selaku sineas, yang sudah malang melintang di dunia perfilman indie Indonesia.

 

Penulis : Christian Karnanda Yang 

Editor : Alif Gusti Mahardika

Foto : Debora Darmawan