Tata Artistik 1980-an dalam “Terbang: Menembus Langit”

(Dari kiri) Erick Estrada, Produser Artistik Oscar Firdaus, Indra Jegel, Dion Wiyoko, dan Produser Susanti Dewi menjadi pembicara dalam Seminar Tata Artistik Film Terbang Menuju Langit di Lecture Theater Universitas Multimedia Nusantara, Selasa (20/03/18). Film Terbang Menembus Langit yang diproduksi oleh Demi Istri Production ini akan tayang di jaringan bioskop pada April 2018. (ULTIMAGZ/Rafaela Chandra)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com  Tata artistik menjadi pendukung utama untuk menceritakan latar waktu dalam sebuah film. Hal ini menjadi topik utama Seminar Tata Artistik Film Periodik, Studi Kasus Film Terbang: Menembus Langit yang dihelat di Lecture Theatre Gedung D Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Selasa lalu (20/03/18).

Dalam seminar ini, hadir Produser Susanti Dewi, Sutradara Fajar Nugros, Produser Artistik Oscar Firdaus, serta aktor Dion Wiyoko, Erick Estrada, dan Indra Jegel. Mereka berbagi pengalaman dan pengetahuannya dalam pembuatan film Terbang: Menembus Langit.

Film dari rumah produksi Demi Istri Production (DIP) ini mengisahkan perjuangan seseorang yang kurang mampu secara ekonomi hingga mencapai keberhasilan. Ia terus didampingi oleh istrinya yang terus setia mendampingi di saat senang maupun susah. Lebih lagi, film ini juga membawa semangat di antara isu-isu yang sedang banyak beredar di Indonesia, terutama dalam hal keragaman.

“Dari segala sisi, film Terbang: Menembus Langit ini bagus untuk dipelajari,” ungkap Susanti pada awal seminar yang hampir semua pesertanya adalah mahasiswa jurusan Film & Televisi UMN.

Mengambil lokasi shooting di tiga kota, yaitu Tarakan, Surabaya, dan Jakarta, Oscar mengungkapkan bahwa film yang menggunakan latar waktu tahun 1980-an ini memiliki tata artistik yang tidak mudah. Banyak usaha keras yang harus dilakukan demi membangun suasana tahun 1980-an.

Salah satunya yaitu menyiapkan rumah yang menjadi lokasi utama shooting di Tarakan, Kalimantan Utara. Persiapan untuk rumah itu sendiri sudah memakan waktu dua minggu. Di dalamnya, disiapkan pula kasur tingkat, poster Rhoma Irama, dan barang-barang lain yang dapat mendukung suasana. 

“Untuk mengumpulkan properti, kami lakukan door-to-door ke rumah warga karena memang banyak yang sulit ditemukan zaman sekarang,” ungkap Oscar.

Hal baik tersebut membuahkan hasil bagi para aktor dan aktris yang berperan dalam film Terbang: Menembus Langit. Seperti misalnya Dion dan Jegel yang mengaku terbantu dalam berakting.

“Kita main jadi kebawa kayak tahun 1980-an juga,” ujar Jegel.

Di balik tata artistik yang tepat dan menarik, Oscar mengungkapkan, diperlukan seorang produser artistik (art director) yang memiliki rasa dan menguasai tiga hal utama.

Art director adalah pekerjaan yang sulit. Ia harus paham seni rupa, arsitektur, dan fotografi,” tegasnya.

Selain kesulitan tata artistik, kesulitan lain yang dihadapi kru adalah mencari pemain anak-anak lokal. Sempat menjadi perbincangan antara Susanti dan Fajar untuk melatih anak-anak lokal Tarakan atau membawa pemain dari Jakarta dan dilatih mengikuti logat dan kebiasaan orang Tarakan. Namun, akhirnya mereka memilih untuk menyeleksi anak-anak lokal Tarakan dan melatih mereka berakting dengan alasan agar gerak-geriknya lebih ‘dapat’.

Film Terbang: Menembus Langit akan ‘terbang’ menghiasi layar bioskop pada 19 April 2018 mendatang. Tentunya film ini akan menjadi salah satu film Indonesia yang menarik perhatian masyarakat pada tahun 2018.

 

Penulis: Geofanni Nerissa Arviana

Editor: Gilang Fajar Septian

Foto: Elisabeth Rafaela Chandra