Berani Berdiskusi Membangun Toleransi Enam Agama

Ajeng menjadi perwakilan dari agama Katholik dalam sesi Focus Group Discussion (FGD) yang bertema "Ask Me Anything" pada acara "Bersama Membangun Keberagama(a)n" yang diselenggarakan oleh Campaign bersama  Indika Foundation, Toleransi.id, SabangMerauke, dan Binus International di Auditorium Binus FX Sudirman, Jakarta pada Kamis (12/07/18). Acara yang bertujuan untuk membangun rasa saling toleransi ini terbagi menjadi tiga sesi yaitu talkshow, Focus Group Discussion (FGD), dan workshop. (ULTIMAGZ/ Devonseta Aldi)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Acara bertajuk “Bersama Merawat Keberagama(an)” diselenggarakan dalam bentuk Campaign kolaborasi antara Indika Foundation, Campaign, Toleransi.ID, SabangMarauke, dan Binus International di Auditorium Binus International fX Sudirman, Kamis (12/07/18) lalu. Dilatarbelakangi maraknya diskriminasi dan kekerasan pada kelompok-kelompok tertentu di Indonesia, para peserta diajak untuk berani bertanya dan berdialog untuk membangun rasa toleransi antar umat beragama.

Acara tersebut berfokus pada generasi milenial. Hal ini ditandai dengan sebagian besar pembicara dan peserta yang berasal dari kalangan generasi milenial.

Acara diawali dengan sesi pertama berupa talk show yang diisi oleh para pembicara generasi milenial ternama, yaitu Gloria Natapradja Hamel (Duta Kemenpora), Trivet Sembel (Proud Project), dan Alanda Kariza (Indonesian Youth Conference), dengan Ayu Kartika Dewi (SabangMerauke) sebagai moderator. Para pembicara membahas mengenai pentingnya keterbukaan dan keberanian mengakui kepentingan toleransi untuk meruntuhkan tembok SARA di Indonesia, baik hubungan antar sesama di dalam negeri maupun dengan orang asing di luar negeri.

CEO Proud Project Trivet Sembel mengutarakan pendapatnya tentang pentingnya menghargai keragaman di Indonesia.

“Keragaman itu kayak bunga, indah karena warnanya beda-beda. Akarnya cokelat, daunnya hijau, mahkotanya bisa banyak warnanya. Kalau bunga warnannya cuma satu dari akar sampai mahkotanya, pasti enggak indah. Jadi indah itu ya karena beragam, makanya keragaman harus dijaga,” tuturnya.

Acara dilanjutkan ke sesi kedua berupa focus group discussion bertajuk “Ask Me Anything”, di mana para peserta diajak untuk berani berdiskusi dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sensitif kepada enam perwakilan semua agama di Indonesia (Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, dan Konghucu). Beberapa pertanyaan-pertanyaan dalam diskusi tersebut adalah “Bagaimana cara Islam memandang wanita?”, “Mengapa Injil Kristen Protestan dan Katholik mempunyai banyak versi?”, “Apakah pemeluk Agama Hindu menyembah berhala dengan patung?”, “Bagaimana konsep ketuhanan Agama Buddha?”, dan “Apakah Agama Konghucu mempunyai Nabi?”. Diskusi tersebut berjalan dengan lancar tanpa adanya konflik.

Kemudian, acara masuk ke sesi terakhir berupa workshop melalui diskusi open space (ruang terbuka) bersama 45 peserta. Hari, perwakilan pihak manajemen mahasiswa Binus menyatakan bahwa diskusi open space adalah ruang untuk berpendapat dan beropini tanpa harus merasa terancam ataupun takut. dengan syarat tidak membawa dan membahas diskusi tersebut ke pihak luar setelah diskusi selesai.

“Saya berharap akan ada fasilitas dari Indonesia agar masyarakat mempunyai ruang terbuka untuk berdiskusi tanpa rasa takut dan ancaman dari pihak lain,” jelas Hari.

Para peserta juga diajak untuk berpartisipasi mendukung gerakan #MerawatToleransi di dunia maya melalui campaign.com/MerawatToleransi. Selain itu, panitia juga memberi kesempatan bagi para peserta untuk membagikan cara merawat toleransi versi masing-masing dengan mengunggahnya di aplikasi Campaign atau media sosial dengan menggunakan hastag #MerawatToleransi.

 

Penulis: Ignatius Raditya Nugraha

Editor: Gilang Fajar Septian

Fotografer: Devonseta Aldi