Berburu Vinyl dan Kamera Jadul di Synchronize Fest 2017

Pengunjung mencoba mendengar musik dari piringan hitam di Record Market, Synchronize Fest 2017 yang digelar di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta, Sabtu (07/10/17).
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Dunia musik Indonesia perlahan mulai terlihat sedang kembali ke era masa lampau. Baik dari segi aliran, penampilan, hingga media mendengarkannya. Salah satunya yaitu piringan hitam atau yang sering disebut dengan vinyl.

Hal ini dapat dilihat pada Synchronize Fest 2017 yang digelar di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Selama tiga hari, yakni Jumat (06/10/17) hingga Minggu (08/10/17), terdapat Records Market yang menjual pernak-pernik musik antik nan ciamik.

Terdapat di dekat pintu masuk, tepatnya di sebelah Hello Dangdut, Records Market menjadi salah satu tempat yang banyak dikunjungi. Tulisan “Records Market” yang digantung pada CD di bagian depan toko menarik perhatian setiap orang yang melewatinya.

Dalam Records Market sendiri terdapat beberapa penjual kaset, CD, piringan hitam, dan kaus. Salah satunya yaitu Toko Pernah Baroe. Mereka menjual piringan hitam dengan harga sekitar Rp 140.000. Piringan hitam yang tersedia berisi musik lokal hingga internasional, baik lagu lama maupun baru.

Selain koleksi piringan hitam dan CD di Toko Pernah Baroe yang tidak terlalu lengkap, toko tersebut juga menjual berbagai kamera yang umum digunakan di zaman dulu, antara lain kamera analog dan Polaroid. Harganya cukup terjangkau, yakni mulai dari Rp100.000-Rp700.000. Semua kamera yang dijual masih berfungsi dengan baik dan telah dilengkapi dengan lensa, baterai, dan segala aksesorisnya. Tentunya ini menjadi cukup menarik karena sekarang kamera analog pun kembali dinikmati para pecinta fotografi.

“Semuanya berawal dari hobi koleksi. Daripada sayang dianggurin, jadi dijual saja,” ujar Anggi Rahamanto dari Toko Pernah Baroe.

“Lagipula memang peminatnya sedang naik, seperti Polaroid misalnya,” lanjutnya.

Toko Pernah Baroe juga menjual koleksinya pada Synchronize Fest tahun lalu. Animo yang muncul ternyata cukup besar, sehingga mereka memutuskan untuk kembali menjualnya pada pesta musik lintas genre dan generasi tahun ini.

Penulis: Geofanni Nerissa Arviana

Editor: Kezia Maharani Sutikno

Foto: Harvey Darian