Bungkam Hoaks dan “Clickbait” Secara Cerdas

Didit Erlangga mengajak anak muda untuk mengakrabkan diri dengan hoaks pada sharing session Jumat (23/03/18) lalu. (ULTIMAGZ/Nabila Ulfa Jayanti)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Di era digital ini, hoaks atau berita bohong semakin mudah ‘menyerang’ pengguna media sosial. Hoaks pun seringkali dibungkus secara apik dalam bentuk clickbait untuk memikat pembaca. Hal tersebut menjadi salah satu topik yang disorot dalam sharing session Kompas Corner yang bertajuk Cerdas Menghadapi Hoaks di Bentara Budaya Jakarta pada Jumat (23/03/18) lalu.

Wakil Manajer Departemen Media Sosial Harian Kompas Didit Putra Erlangga mengatakan kalau clickbait merupakan trik media terutama media dalam jaringan (daring) yang sangat menguntungkan dari segi bisnis. Semakin banyak orang yang meng-klik situs mereka, makin banyak puka iklan dan pendapatan yang akan diraih.

Selain menjadi cara untuk menaikkan traffic website, clickbait juga bisa menjadi media penyebaran hoaks.

“Satu titik dia (clickbait) menggunakan strategi yang sama dengan hoaks, yaitu penasaran. Kita pada dasarnya orang yang penasaran. Media memancing ingin tahu, emosi. Jadi saya bilang dari awal, konten yang efektif di media sosial adalah yang bisa diklik karena emosi pembacanya. Itu yang dieksploitasi oleh clickbait,” ujar Didit.

Pengguna media sosial nyatanya sering dibuat kecewa dengan berita clickbait meskipun menguntungkan perusahaan.

“Secara bisnis itu akan menguntungkan jangka pendek. Secara jangka panjang itu akan merusak kredibilitasnya. Karena orang sudah antipati duluan,” imbuh Didit.

Lebih jauh, Didit menjelaskan pentingnya mengakrabkan diri dengan hoaks. Hal ini terkait dengan tingginya angka penetrasi internet di Indonesia yang berkembang cepat. Berdasarkan survei dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia melejit tajam dari 88 juta di tahun 2014, menjadi 132 juta di tahun 2016. Generasi muda mendominasi demografi tersebut.

Mayoritas pengguna internet, yakni sebesar 97%, merupakan pengguna media sosial. Tren mendapatkan berita pun beralih dari media konvensional ke media sosial yang begitu mudah dijangkau. Tapi meskipun informasi melimpah, masih ada berita bohong terselip di sana. Menurut Didit, hoaks adalah konsekuensi dari banjir informasi yang dihadapi setiap hari.

“Kita bisa tahu apa yang terjadi di belahan dunia saat itu juga. Tapi banjir informasi itu membuat kita kadang kesulitan karena ada informasi yang valid, ada yang belum jelas, dan ada yang bohong. Kadang banjir informasi membuat kita susah memisahkannya,” jelasnya.

Memahami bagaimana hoaks bekerja dapat dimulai dari setiap individu. Setiap pengguna internet harus memastikan diri supaya tidak terlibat, sehingga tidak ada berita bohong yang tersebar luas.

Ini merupakan Sharing session perdana yang diadakan oleh Kompas Corner perdana, mendampingi printing tour penerbit Kompas yang diadakan untuk ketiga kalinya. Selain itu, Kompas Corner juga mengadakan lomba menulis artikel yang terbuka untuk umum.

 

Penulis: Nabila Ulfa Jayanti

Editor: Gilang Fajar Septian

Foto: Nabila Ulfa Jayanti