Deja Food Usung Konsep Food Bazaar dalam Acara Perdana

Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanagara (Untar) menggelar acara Dejafood untuk pertama kalinya di Main Lobby 2, Lippo Mall Puri, Jakarta Barat. Acara yang berlangsung dari 23-25 Maret 2018 ini menghadirkan berbagai ragam makanan. (ULTIMAGZ/Ergian Pinandita)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com — Sebagai bentuk dukungan bagi acara Accounting Festival 2018, Ikatan Mahasiswa Akuntansi Tarumanegara (IMAKTA) dari Universitas Tarumanegara mengadakan bazar makanan bertajuk Deja Food di Terrace Walk Lippo Mall Puri, Jumat (23/03/18). Menghadirkan kurang lebih 45 tenant, bazar yang membalut konsep makanan dan minuman atau F&B ini merupakan acara perdana IMAKTA.

Meski minat terhadap bazaar telah berkurang di kalangan masyarakat lantaran meluasnya pusat perbelanjaan yang cenderung lebih lengkap, konsep F&B ini dinilai berbeda dari konsep bazar lainnya. Salah satunya adalah dengan berfokus pada unsur makanan sebagai kebutuhan sehari-hari.

“Sebenarnya kita ngeliat kalau kayak bazaar jaman sekarang itu hype-nya udah turun, ya, apalagi yang kayak fashion gitu karena orang dengan mudah mencari fashion, tuh di mal dan sekarang orang udah malas untuk ke bazar. Dan, kita lihat kalau yang enggak bisa tergantikan adalah makanan, karena kemana pun orang pergi pasti mereka butuh makan,” jelas Ketua Panitia Deja Food Edwin.

Selain itu, bazaar yang dipersiapkan sekitar 4-5 bulan ini juga mengusung konsep outdoor atau digelar di tempat yang terbuka. Menurut Edwin, jika dikaitkan dengan regulasi tempat, konsep ini dinilai lebih mudah dibandingkan konsep indoor dalam penyelenggaran bazar yang menjual makanan.

“Kadang kalau kita mau masuk ke dalam mal untuk bazar makanan itu regulasinya agak susah,” tambahnya. “Kalau untuk outdoor, kita bisa pake kayak gas gitu-gitu jadi memudahkan juga dan target market kita pun lebih luas,”

Adapun santapan yang disajikan oleh para tenant dalam bazar ini tidak memiliki tema khusus. Namun, Edwin mengaku bahwa presentase hidangan berat dinilai lebih banyak dibandingkan kudapan maupun minuman.

“Kalau misalnya dari tenant, sih, kita kelompokin-nya cuma dari kayak, presentase main course lebih banyak dibandingkan light bite sama beverage-nya, jadi kalau untuk khusus yang dari negara-negara gitu kita enggak, sih,” ujarnya.

Di sisi lain, Deja Food tidak hanya berperan sebagai wadah bagi para penyewa yang ingin menjual produk mereka, tetapi sebagai sarana hiburan juga, seperti kontes foto,  penampilan musik, dan kompetisi makan yang didukung oleh sponsor-sponsor acara tersebut yaitu OVO, Le Minerale, dan Teh Pucuk.

Sementara itu, Deja Food akan diselanggarakan hingga Minggu (25/03/18).

 

Penulis: Audrie Safira Maulana

Editor: Ivan Jonathan

Foto: Ergian Pinandita