Film “Wiro Sableng”, Kisah Nusantara yang Akan Menarik Minat Dunia

Sharing Session bersama para tokoh di balik layar film Wiro Sableng oleh (dari kiri) Production Designer Adrianto Sinaga, Sutradara Angga Dwimas Sasongko, Produser Lala Timothy yang dimoderatori oleh Dosen FTV Universitas Multimedia Nusantara Makbul Mubarak Selasa (27/03/2018) lalu di Lecture Theatre Gedung D UMN. (ULTIMAGZ/Nadine K)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Bertempat di Lecture Theater Hall pada Selasa (27/03/18) lalu, diadakan sesi sharing tentang pembuatan film Wiro Sableng. Film yang akan tayang pada 2018 ini berhasil menggaet 20th Century Fox, studio film kenamaan asal Amerika Serikat sebagai mitra produksi dan distribusi secara internasional.

Pada 2016, Sheila Timothy selaku Produser Wiro Sableng memutuskan bahwa co-production film tersebut harus dilakukan dengan pihak asing untuk mendapatkan suntikan dana yang lebih besar. Dengan bantuan dari salah satu temannya yang berposisi sebagai agen sales internasional, ia pun melakukan pitching bersama Fox. Dibantu timnya, Sheila sukses meyakinkan Fox, sehingga Wiro Sableng dapat menjadi film pertama di Asia Tenggara yang melakukan co-production bersama studio yang berbasis di California tersebut.

Menurut produser yang akrab di panggil Lala itu, salah satu daya tarik Wiro Sableng di mata Fox adalah sifatnya yang sangat lokal. Sejak pitching, dirinya telah menjelaskan tentang adanya penggunaan unsur pencak silat serta fantasi nusantara di dalam film ini. Ciri khas tersebut dinilai sebagai nilai plus dalam film ini.

“Saya selalu bilang, memang membanggakan ketika Wiro Sableng ini menjadi co-production pertama di southeast asia untuk Fox. Tapi mindset yang saya keluarkan disini lebih kearah bahwa kita harus bangga bahwa Fox tertarik sama IP (Intelectual Property) kita, bukan karna kita (Wiro Sableng) ke luar tapi dia (Fox) yang kesini,” ujarnya.

Diakui Lala, sebelumnya ia ditawarkan oleh sang adik ipar, Vino G. Bastian yang juga merupakan putra dari penulis Wiro Sableng yaitu Bastian Tito, untuk memfilmkan cerita tersebut, namun dirinya belum tertarik karna banyak kesulitan yang akan dihadapi jika ia memproduksi cerita tersebut tanpa persiapan matang.

“Saya tau ini action, ini fantasy dan kalau tidak digarap dengan benar-benar, dengan energi yang super dan tidak dengan bensin investasi yang cukup, bakal cemen,” jelasnya.

Lala yang merasa terpanggil pun mulai membentuk tim pada 2015 untuk membaca 185 buku dari Wiro Sableng dan melakukan pendataan dari cerita dan karakter-karakter didalamnya. Sejauh ini, Lala mengaku kalau timnya sudah membaca 2/3 dari total keseluruhan buku, yang mana telah memunculkan sebanyak kurang lebih dua ratus karakter.

 

Penulis : Ariefiani  Elfrida Mastina Harahap

Editor : Gilang Fajar Septian

Foto : Nadine K. Azura