Indonesia Kita: ‘Brigade Orgil’ Tunjukkan Kegilaan Masa Kini

Pemilihan seorang pemimpin indonesia yang di perankan oleh Bedu Tohar (kanan) dan Marwoto (kiri)dalam pentas brigede orgil, jumat (10/08/18) di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta. (ULTIMAGZ/Gabriela Vivien)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Masih bertemakan Budaya Pop: Dari Lampau ke Zaman Now, Indonesia Kita mempersembahkan lakon ke-29 bertajuk “Brigade Orgil” yang diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki, pada Jumat (10/08/18). Dimeriahkan oleh aktor-aktor seperti Cak Lontong, Akbar, Inayah, dan Marwoto, pementasan ini masih memiliki tujuan yang sama bagi para penonton Indonesia Kita, yakni untuk membangun nasionalisme.

Brigade Orgil menceritakan tentang negeri Gilabeh, di mana masyarakatnya terserang suatu wabah yang membuat mereka seolah mengalami kegilaan. Di tengah kekacauan yang melanda negeri Gilabeh tersebut, muncul orang gila dengan latar belakang tidak jelas bernama Bedu (Bedu Tohar), yang menjadi kandididat pemimpin negeri. Namun, ketidakwarasan Bedu itu menjadi tidak berarti pada saat orang gila justru dianggap waras dan sebaliknya.

“Melalui potret-potret sosial yang kita mainkan masyarakat bisa melihat Indonesia dan tetap teringat akan sejarah negeri, gagasan pendiri bangsa tentang Indonesia yang diimpikan,” ujar Butet Kartaredjasa yang menjadi bagian dari tim kreatif.

Dirinya menjelaskan, pesan yang ada dalam Brigade Orgil bukan hanya menunjukan kegilaan masyarakat dalam politik, tetapi juga kegilaan dalam dunia digital.

“Pertunjukannya sudah berbicara perihal kegilaan masyarakat Indonesia hari ini, kegilaan masyarakat dalam politik, kegilaan netizen yang dengan mudahnya menyebarkan ujaran kebencian,” terang Butet.

Butet juga menanggapi perihal tema pementasan yang kebetulan bertepatan dengan pendaftaran Capres-Cawapres yang terjadi pada hari itu juga.

“Kesenian kami (Indonesia Kita) adalah kesenian yang kontekstual dan aktual, apa yang terjadi pagi ini hadir dalam panggung. Itulah berkah-berkah yang didapatkan dari masyarakat, ide-ide muncul dari masyarakat.” Kata seniman asal Jogja ini. “Serta praktek estektik kesenian kami sifatnya elastis yang tidak tunduk patuh dalam temuan. Lalu akan tetapi, temuan hari ini adalah yang temuan diatas panggung. Inilah elastisitas model pertunjukan yang dibangun Indonesia Kita tanpa disengaja.”

Pertunjukan pada Jumat malam sukses mengocok perut penonton melalui guyonan dan improvisasi para pemerannya, walaupun sempat diwarnai oleh keterlambatan pertunjukan. Lakon ini juga makin diramaikan dengan kehadiran Fakultas Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta (FSP IKJ).

 

Penulis: Theresia Amadea

Editor: Gilang Fajar Septian

Foto: Gabriela Vivien