Indonesia Kita Tampilkan Pertunjukan Komedi Berbalut Budaya Betawi

Akbar (kiri), Cak Lontong (tengah), dan Arie Kriting (kanan) sedang memainkan perannya dalam "Komedi Tali Jodo" yang diselenggarakan oleh Bakti Budaya Djarum Foundation Indonesia Kita di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jumat (27/5) dan Sabtu (28/5).
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Bakti Budaya Djarum Foundation yang bernama Indonesia Kita mengadakan pertunjukan teater ke-19 bertajuk “Komedi Tali Jodo”. Pertunjukan yang digelar dua kali di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jumat (27/5) dan Sabtu (28/5) ini pertama kalinya mengangkat budaya Betawi sebagai temanya.

Butet Kartaredjasa selaku produser dan tim kreatif Indonesia Kita sempat menyampaikan kata sambutannya sebelum pertunjukan dimulai. “Buat masyarakat Betawi, kami meminta maaf, dari sembilan belas kali penampilan, ya baru kali ini kita angkat budaya Betawi,” ujarnya.

Butet juga mengatakan bahwa tujuannya mengangkat tema yang berbeda-beda budaya dalam setiap pertunjukannya adalah agar masyarakat bisa benar-benar mengenal Indonesia yang sesungguhnya melalui kebudayaan.

Dibintangi oleh beberapa artis ternama seperti Maudy Koesnaedi, Mandra, Miing Bagito, Didin Bagito, Marwoto, Cak Lontong, Akbar, Arie Kriting, dan Trio GAM, “Komedi Tali Jodo” menceritakan tentang tiga sekawan yang mencoba mengadu nasib di Ibu Kota.

Tiga sekawan tersebut (Cak Lontong, Akbar, dan Arie Kriting) dipertunjukkan awalnya sedang menikmati kopi di sebuah warung. Hingga Akbar dan Arie terpikat pada dua orang perempuan kakak-beradik bernama Tali dan Jodo, yang sedang bertugas menjaga warung saat itu.

Tiba-tiba, muncullah preman-preman (Trio GAM) sebagai utusan Miing Bagito, Marwoto, dan Didin Bagito dari kalangan pejabat yang memiliki bisnis kotor dan berkepentingan menguasai daerah tempat warung tersebut berada. Berkat aksi Cak Lontong, para preman tersebut berhasil dibuat mundur hingga menyerah dan pergi.

Akan tetapi, kedua perempuan penjaga warung, berserta ibunya (Maudy Koesnadi) dan pamannya (Mandra), justru lebih memuji Akbar dan Arie yang berusaha melindungi, ketimbang Cak Lontong yang berkelahi.

Merasa kecewa dan tidak terima, Cak Lontong memilih untuk pergi meninggalkan kedua temannya. Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena Cak Lontong pun kembali menemui Akbar dan Arie untuk berusaha mengembalikan pertemanan mereka.

Di saat persahabatan tiga sekawan mulai kembali membaik, Didin bersama preman-premannya berusaha untuk membujuk Cak Lontong bergabung dalam bisnis mereka. Karena cukup menggiurkan, Cak Lontong menerima tawaran tersebut hingga mau menjadi direktur utama.

Namun siapa sangka, Cak Lontong yang tak tahu apa-apa soal bisnis kotor tersebut justru dikambing hitami. Ia pun ditangkap dan dimasukkan ke penjara.

Di balik komedi yang sangat menghibur dan mengundang gelak tawa tersebut, Indonesia Kita sebenarnya berusaha menyampaikan keprihatinan dan ingin menyadarkan masyarakat mengenai kondisi sosial yang ada di negeri ini. Bahkan, Butet mengatakan bahwa lewat pertunjukan ini Indonesia Kita juga berusaha untuk menanamkan sikap toleran dan penghargaan dalam proses berbangsa dan bernegara.

Sebelum menutup kata sambutannya, Butet mengajak para penonton untuk menghadirkan budaya nasional dalam setiap segi kehidupan hingga menjadikan budaya sebagai ibadah. “Mari beribadah kebudayaan!” seru Butet.

Penulis: Richard Joe Sunarta

Editor: Agustina Selviana

Fotografer: Benedict Wiyanjaya