Lakon Ironi oleh Teater Gandrik dalam Hakim Sarmin

Butet Kertaradjasa menjadi tokoh utama di Teater Gandrik: Hakim Sarmin sebagai Hakim Sarmin sendiri di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta pada Rabu lalu (05/04/17).
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Teater Gandrik kembali menyapa masyarakat Jakarta di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Teater berjudul Hakim Sarmin ini dilaksanakan selama dua hari yakni pada Rabu (04/04/17) dan Kamis (05/04/17). Sebelumnya, Hakim Sarmin juga dipentaskan di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta pada Rabu (29/03/17) dan Kamis (30/03/17).

Pagelaran yang disutradarai G. Djaduk Ferianto dan diproduseri Butet Kartaredjasa ini dikemas dengan nuansa santai tapi serius. Tidak hanya peran dengan dialog, Hakim Sarmin juga dibumbui dengan alunan musik dan lagu.

Isu yang kontekstual menjadi latar belakang lakon Hakim Sarmin, yakni tentang kehidupan para hakim yang memilih masuk rumah sakit jiwa yang disebut Pusat Rehabilitasi. Pagelaran ini mengisahkan tentang kehidupan politik zaman sekarang ketika keadilan dan kegilaan tidak lagi bisa dibedakan.

“Kegilaan dimulai dari pikiran. Revolusi selalu diawali oleh mereka yang gila. Inilah zaman ketika kegilaan sudah menjadi tren. Kalau tidak gila malah dianggap jadul, kurang gaul,” kata Hakim Sarmin yang diperankan Butet Kartaredjasa dalam salah satu dialognya.

Di Pusat Rehabilitasi, para hakim dirawat oleh dua orang suster perawat. Ketika suster perawat sedang tidak menjaga, mereka mengadakan diskusi membahas tentang kehidupan para hakim. Diskusi ini sekaligus menyentil para penguasa negeri. Frasa “Demi bangsa dan negara!” diucapkan berkali-kali untuk menekankan bahwa masih ada hakim-hakim bersih yang berjuang demi bangsa dan negara.

Pimpinan Pusat Rehabilitasi Dokter Menawi Diparani (Susilo Nugroho) dianggap tak lagi bisa mengendalikan para hakim pasien di Pusat Rehabilitasi ketika para hakim itu mulai menggerakkan revolusi keadilan. Pemberontakan hakim ini melibatkan Komandan Keamanan, Pak Kunjaran Manuke (Fery Ludiyanto), seorang politisi muda yang ambisius, Bung Kusane Mareki (M. Arif “Broto” Wijayanto), dan seorang pengacara wanita yang menjadi penasehat Pimpinan Kota, Sudilah Prangin-angin (Citra Pratiwi).

Salah satu sentilan dalam pagelaran ini ditujukan untuk para koruptor ketika Dokter Menawi Diparani bertanya kepada Hakim Sarmin.

“Mengapa koruptor tidak dihukum mati?” tanyanya.

“Itu membebaskan mereka dari tanggung jawab. Jangan kasih remisi. Bahkan kalau bisa beri mereka perpanjangan umur untuk bertanggung jawab,” jawab Hakim Sarmin.

“Mengapa koruptor tidak dimiskinkan saja?” tanyanya lagi.

“Orang miskin itu tanggung jawab negara. Nanti mereka malah menjadi tanggung jawab negara. Bagaimana negara bisa mengurangi kemiskinan?”

Sesekali lelucon dipentaskan untuk menetralisir emosi penonton yang seakan setuju dengan pesan ironi yang disampaikan Hakim Sarmin.

“Guyonan dan adegan demi adegan yang ditampilkan dengan gaya Teater Gandrik akan membuat lakon Hakim Sarmin ini menjadi tak sekedar penuh tawa, tetapi juga ironi yang membuat kita harus memikirkan kembali kewarasan kita,” ujar Penulis Naskah Hakim Sarmin Agus Noor.

Pementasan ini didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation dan melibatkan para seniman Indonesia yang turut berpartisipasi dalam pementasan Hakim Sarmin.

Penulis: Geofanni Nerissa Arviana

Editor: Kezia Maharani Sutikno

Foto: Roberdy Giobriandi