Masalah dan Solusi Kelautan dalam Diskusi Penyelamatan Laut

Social Good Summit (SGS) kembali diselenggarakan untuk yang ketiga kalinya oleh Rappler Indonesia yang bekerjasama dengan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP).
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com –Salah satu rangkaian Social Good Summit (SGS) 2017 merupakan diksusi dengan beberapa panelis. Sesi panel diskusi Save Our Oceans banyak memberikan pemaparan fakta masalah dan solusi bagaimana menghadapi ancaman-ancaman yang ada.

Diskusi pada sesi pertama ini dibuka dengan pemaparan dari Anggota DPR Irine Roba tentang bahaya yang dihadapi laut dan pesisir akibat pariwisata. Sektor pariwisata laut Indonesia yang kian hari kian ramai juga dapat menyebabkan ketidakseimbangan antara wisatawan dan destinasi wisata.

“Gampang sekali overtourism (ketidakseimbangan antara wisatawan dan destinasi wisata) itu di link-an dengan kehidupan warga lokal yang kurang nyaman, pasokan air bersih, limbah, hingga rusaknya artefak budaya,” tutur wanita anggota komisi 10 tersebut. 

Terkait ketimpangan tersebut, Indonesia mulai memperlihatkan gejala-gejalanya. Menurut Irine, selama kunjungan kerjanya selama menjadi DPR, banyak yang mengeluhkan hal serupa.                           

“Dari hasil kunjunngan kerja saya ke beberapa daerah, bertemu dengan beberapa stakeholder, ada yang penyelam, ada yang pelaku pariwisata, ada pemerintah, ada blogger, mengatakan bahaya gejala-gejala overtourism sudah dirasakan di Indonesia,” jelasnya. 

Program Director Coral Triangle WWF Indonesia Wawan Ridwan turut hadir sebagai pembicara dalam panel diskusi Save Our Oceans.

Selain pemaparan tentang ancaman, solusi akan masalah-masalah kelautan juga diberikan. Kawasan konservasi perairan untuk menjamin perikanan yang berkelanjutan merupakan pembahasan yang diberikan oleh Wawan Ridwan, Direktur Program Coral Triangle World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia. Menurutnya zona kelautan yang dilindungi juga harus mendapat perhatian khusus. 

“Tentu MPA (Marine protected Areas) harus ada batasnya. Jadi kita identifikasi mana keterwakilan ekosistem yang paling kaya, karna itu penting. Kalau tidak pada bagian terkaya ekosistemnya akan percuma juga,” jelas Wawan.

Terkait konservasi perairan, Ahli Antropologi Maritim Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dedi Adhuri juga memberikan pembahasan tentang bagaimana manusia harus menjadi bagian dari suatu konservasi alam. Menurutnya akan tidak adil ketika manusia justru tidak boleh berada di alam. Sebaliknya manusia seharusnya memberikan pengertian sehingga dapat bekerjasama dalam menjaga kelestarian konservasi.

“Mereka (manusia) sebenarnya merupakan sumber potensial untuk menjadi kolaborator, tidak hanya menjadi predator (terhadap alam) saja. Tapi kita justru harus mentransformasi pikiran kita,” jelas Dedi.

Rangkaian acara disukusi pun berjalan dengan sangat lancar. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan untuk para panelis, namun sayang waktu yang terbatas membuat para panelis tidak bisa banyak menjawab banyak pertanyaan dari peserta.

Penulis: Ariefiani Elfrida Mastina Harahap

Editor: Kezia Maharani Sutikno

Foto: Evelyn Leo