‘Omongobrolan’ Perlihatkan Percakapan Keseharian Manusia yang Konyol

Joind Bayuwinanda, Wawan Sofwan, dan Jim Adhi Limas dalam salah satu sketsa yang ditampilkan melalui pentas Omongobrolan di Komunitas Salihara, Minggu (12/08/18). Pentas ini merupakan salah satu rangkaian acara Salihara International Performing-arts Festival (SIPFest) 2018. (Foto: Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com — Sebagai bagian dari rangkaian acara, Salihara International Performing-arts festival (SIPFest 2018) menampilkan pentas teater bertajuk “Omongobrolan” pada Minggu (12/08/18). Pentas ini turut diramaikan oleh aktor teater Jim Adhi Limas, Joind Bayuwinanda, dan Wawan Sofwan.

Omongobrolan sendiri merupakan pembacaan empat sketsa pendek karya penulis asal Prancis, Roland Dubillard yang telah diterjemahkan oleh Jim. Keempat sketsa dengan topik yang berbeda, yakni “Ping Pong”, “Hujan”, “Berenang”, dan “Bajak Laut” ini ditampilkan selama satu jam, di mana masing-masing sketsa memiliki durasi 20 menit. Dalam setiap sketsa, ketiga aktor secara bergantian memerankan dua karakter yang sedang membicarakan topik sehari-hari, namun terkesan konyol.

Pentas diawali dengan “Ping Pong”, dimana Jim dan Wawan memainkan dua karakter yang sedang melakukan aktivitas olahraga berupa pingpong sambil membicarakan saudara mereka yang mempunyai nama yang sama, yakni Titin. Kemudian, dilanjutkan oleh “Hujan” yang membahas tentang ketakutan aneh seseorang terhadap hujan.

Dilanjutkan oleh sketsa ketiga yaitu “Berenang”, yang memperlihatkan kedua karakter hendak melompat ke sebuah sungai, namun terlibat dalam sebuah argumen karena mereka saling menunggu satu sama lain. Terakhir, ada “Bajak Laut” yang mengisahkan seseorang yang sedang menunggu temannya di dekat sebuah kanal dan bertemu dengan “bajak laut”. Tawa yang datang dari para penonton sesekali terdengar dalam beberapa adegan lucu.

Pada akhir pementasan, ketiga aktor mendapatkan sambutan yang meriah. Meski dilengkapi oleh properti sederhana berupa empat buah kursi, gantungan pakaian, serta benda seperti payung yang diikatkan ke atas, ketiga aktor mampu menyuguhkan makna dari sketsa bergenre komedi ini dengan jelas berkat kemampuan akting mereka yang fenomenal.

Di sisi lain, latar belakang teater yang hitam dan hanya disinari oleh lampu minim semakin membuat ketiga aktor yang sedang tampil menjadi sorotan utama, sehingga penonton dapat lebih menaruh fokus kepada mereka.

Sementara itu, SIPFest 2018 akan melanjutkan rangkaian acaranya hingga 9 September mendatang, dengan total penampilan hingga 14 pertunjukan.

 

Penulis: Audrie Safira Maulana

Editor: Gilang Fajar Septian

Fotografer: Witjak Widhi Cahya (Komunitas Salihara)