SIPFest 2018 Akan Didominasi oleh Seniman Mancanegara

Narasumber SIPFest 2018 mengadakan konferensi pers terkait festival seni pertunjukan dua tahunan yang akan digelar pada 4 Agustus hingga 9 September mendatang di Komunitas Salihara, Rabu (01/08/18). Dari kiri ke kanan: Direktur SIPFest 2018 Nirwan Dewanto, aktor Jim Adhi Limas, koreografer Lucy Guerin dan Otniel Tasman, Program Manajer SIPFest 2018 Ening Nurjanah, serta seniman Achmad Krisgatha dan Gabriel Aries Setiadi. (ULTIMAGZ/Audrie Safira Maulana).
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com — Festival seni pertunjukan Salihara International Performing-arts Festival (SIPFest) 2018 akan kembali menyapa para penggemar seni pada 4 Agustus hingga 9 September mendatang. Acara besutan Komunitas Salihara ini akan mengundang beberapa seniman papan atas, baik lokal maupun mancanegara, khususnya dari Australia, Belgia, Iran, Kanada, Malaysia, Prancis, dan Taiwan.

SIPFest 2018 resmi dibuka dengan tarian kontemporer bertajuk “Split” karya koreografer asal Australia, Lucy Guerin. Split akan memperlihatkan duet antara dua penari asal Lucy Guerin Inc., yakni Lilian Steiner dan Melanie Lane, yang akan menari selama 50 menit di sebuah ruang yang semakin lama semakin menyempit.

“(Ruangan ini) akan terus dibagi menjadi dua dan mengurangi ruang dimana mereka bisa menari dan waktu lamanya mereka menari, sampai mereka hanya mampu mendesakkan diri di suatu sisi. Tarian ini mempunyai kesan klaustrofobia yang cukup intens,” tutur Guerin pada konferensi pers SIPFest 2018 yang diadakan pada Rabu (01/08/18) di Komunitas Salihara.

Selain Split, pertunjukan tari berkelas internasional lainnya adalah “Heretics” oleh koreografer asal Belgia, Ayelen Parolin, dan “Paralléles” yang dibawakan koreografer dan tim penari asal Prancis, Abderzak Houmi dan Compagnie X-Press.

Dari tanah air sendiri, koreografer asal Banyumas, Otniel Tasman akan menyajikan tarian kontemporer bernama “Cablaka“, yang terinspirasi dari seni lengger di kampung halamannya dan dipadukan dengan musik dangdut. Tarian yang diproduksi secara langsung oleh SIPFest 2018 ini akan ditampilkan oleh lima penari, termasuk Tasman sendiri, pada 8 Agustus, yang bertepatan dengan perayaan 10 tahun Komunitas Salihara.

“Saya berasal dari Banyumas dan saya ketiban indang lengger, terus dari indang itu saya mulai memahami bagaimana hidup dengan lengger yang tidak semudah dan sesulit yang kita bayangkan, akhirnya ada tarik-menarik di kehidupan personal dan sosial saya yang menghasilkan resistence atau perlawanan,” ujar Tasman ketika menjelaskan potongan arti dari tarinya.

Di bidang musik, terdapat empat pertunjukan musik dari tiga negara yang akan menyuguhkan penampilan berbasis ansambel. Keempat penampil tersebut merupakan Ju Percussion Group asal Taiwan, Quatuor Bozzini dan Quasar Quatuor de Saxophones asal Kanada, serta Toccata Studio asal Malaysia.

Sedangkan di bidang teater, akan ada pertunjukan Monolog Sutan Sjahrir yang disutradarai dan ditulis oleh Rukman Rosadi dan Ahda Imran, serta diperankan oleh Rendra Pamungkas; Baling oleh sutradara asal Malaysia, Mark Teh yang diperankan oleh Five Arts Centre; dan White Rabbit Red Rabbit oleh sutradara asal Iran, Nassim Soleimanpour dan dibintangi oleh Reza Rahadian dan Sita Nursanti,

Meski berfokus pada seni pertunjukan, namun SIPFest 2018 juga akan menghadirkan seni instalasi dalam bentuk pameran bertajuk “Karya-Karya di Ruang Terbuka” oleh tiga perupa, yakni Achmad Krisgatha, Meliantha Muliawan, dan Gabriel Aries Setiadi.

 

Penulis: Audrie Safira Maulana

Editor: Gilang Fajar Septian

Foto: Audrie Safira Maulana