Aurora Steve, Si Cahaya Misterius di Utara

Kilau aurora Steve yang menghebohkan. Berbentuk pita ungu dan hijau, kini Steve masih ditelaah oleh ilmuan secara lebih lanjut. (Nasa.gov)
Share:

KANADA, ULTIMAGZ.com – Semburat hijau-keunguan di langit Kanada menggegerkan kelompok pecinta aurora yang tergabung dalam grup Facebook Alberta Aurora Chasers. Pasalnya, cahaya tersebut memiliki karakteristik yang berbeda dari aurora kebanyakan. Penemuan fotografer ini menarik perhatian ilmuwan antariksa untuk mempelajarinya secara lebih lanjut.

“Para pemburu aurora dari Alberta, Kanada, sedang berusaha mengambil gambar terbaik. Namun tanpa sengaja mereka justru melihat garis ungu di langit malam,” ujar ahli fisika di Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) Goddard Space Flight Center Elizabeth MacDonald pada Kamis (15/03/18) silam dilansir nationalgeographic.co.id.

MacDonald mengaku tertarik mempelajari aurora ini karena dapat dijabarkan menjadi Strong Thermal Emission Velocity Enhancement (Steve). Selama ini aurora borealis dan australis berbentuk tirai tipis dengan warna merah, hijau, atau kuning, sedangkan aurora yang baru ditemukan ini berbentuk pita panjang berwarna ungu dan warna hijau di ujungnya.

Steve merupakan garis yang terbentuk dari gas yang berionisasi, bergerak pada kecepatan 6,4 km perdetik. MacDonald mengaitkan Steve dengan ‘ion subauroral yang sedang mampir’, berbeda dengan fenomena aurora lain yang sering disebut dengan ‘busur proton’. Fenomena Steve terjadi sekitar 60 derajat di atas garis khatulistiwa. Kemudian terdapat penyelarasan medan listrik dan magnet sehingga ion dan elektron mengalir cepat dari arah timur ke barat.

Aurora Steve tak selalu dapat dilihat di musim dingin. Kemunculannya terjadi bersamaan dengan iklim luar angkasa, ketika matahari memuntahkan partikel bermuatan.

“Steve bisa bertahan selama 20 menit sampai satu jam. Steve mungkin hanya muncul di musim-musim tertentu, karena ia tidak muncul pada Oktober 2016 sampai Februari 2017 dan juga dari Oktober 2017 sampai Februari 2018,” tulis NASA dilansir dari laman resminya.

Peneliti masih terus mempelajari Steve dan meminta masyarakat di berbagai belahan dunia seperti Selandia Baru, Inggris, Alaska, untuk turut memantau. Sebuah aplikasi bernama Aurorasaurus pun diluncurkan NASA guna mengetahui jejak aurora – terutama Steve – dengan mendokumentasikannya sehingga dapat tersebar ke seluruh dunia.

 

Penulis: Nabila Ulfa Jayanti

Editor: Gilang Fajar Septian

Foto: Nasa.gov

Sumber: Theguardian.com, BBC.com, Wired.com, Nasa.gov, Nationalgeographic.co.id, Kompas.com