Mengunjungi Tiga Kuil Shinto, Destinasi Wisata Budaya Jepang

Deretan gerbang "torii" berwarna oranye dan hitam yang menjadi ciri khas dari Kuil Fushimi Inari, Fushimi-Ku, Kyoto, Jepang.
Share:

JEPANG, ULTIMAGZ.com – Menjadi salah satu negara yang telah berdiri selama ribuan tahun, Jepang terbilang kaya akan sejarah dan budaya. Agama mayoritasnya, Shinto, memberi pengaruh besar dalam hadirnya berbagai macam kuil yang tersebar seantero Jepang. Diperkirakan terdapat kurang lebih 100.000 kuil Shinto di seluruh Negeri Matahari Terbit ini.

Kuil-kuil Shinto pada dasarnya memiliki arsitektur dan filosofi budaya yang identik satu sama lain. Satu yang paling mencolok adalah sebuah gerbang khas yang akan selalui ditemui di setiap kuil Shinto. Gerbang tersebut disebut torii dan turut menjadi ikon pariwisata Jepang. Berikut adalah tiga kuil Shinto terkenal yang patut dikunjungi kala bertandang ke Jepang.

1. Kuil Meiji-Jingu, Shibuya, Tokyo

Pintu masuk utama Kuil Meiji-Jingu. Terlihat arsitektur tradisional Jepang yang didominasi warna coklat tua dan hijau.

Kuil ini memiliki keunikannya tersendiri karena terletak di sebuah hutan kota luas di tengah salah satu daerah paling sibuk di Tokyo. Pengunjung akan disambut dengan gerbang torii berwarna coklat yang tinggi menjulang. Kemudian, jalan berkerikil yang cukup panjang akan membawa pengunjung ke kompleks utama kuil ini. Kuil ini dibangun untuk menghormati kaisar Jepang, Meiji dan permaisurinya, Shoken.

Pengunjung tidak hanya bisa mengamati arsitektur dan ritual keagamaan masyarakat Jepang. Terdapat tempat khusus di mana pengunjung bisa menuliskan dan menggantungkan permohonannya. Di tengah jalan menuju ke kuil pun dapat ditemukan puluhan drum dengan berbagai corak yang berisi sake dan wine. Drum-drum ini merupakan donasi dari masyarakat Jepang sebagai persembahan kepada kaisar dan permaisurinya.

2. Kuil Fushimi Inari, Fushimi-ku, Kyoto

Barisan “torii” berwarna oranye dan hitam khas Fushimi Inari yang menjadi daya tarik utama.

Kuil yang didedikasikan untuk dewa beras dan sake Jepang, Inari Okami ini bisa dibilang menjadi salah satu kuil paling Instagrammable. Dengan kepopulerannya di Instagram, hingga saat ini terdapat 196.868 unggahan foto yang berlatar Fushimi Inari dari banyak wisatawan seluruh dunia. Daya tarik Fushimi Inari adalah jumlah gerbang torii-nya yang tidak hanya satu melainkan ribuan, tepatnya berjumlah 5.000 menurut situs wisata resmi Kyoto.

Dengan perpaduan warna oranye dan hitam, pengunjung akan dibuat terlena dengan barisan torii yang tampak tidak ada habisnya. Meskipun demikian, pengunjung disarankan mempersiapkan fisiknya agar prima jika ingin mengeksplorasi seluruh kuil ini. Hal ini dikarenakan selain ukuran kuil yang luas, pengunjung juga harus meniti tangga demi tangga yang jumlahnya bersaing dengan torii di kuil ini.

3. Kuil Yashaka, Gion, Kyoto

Pemandangan Kuil Yashaka di malam hari. Di sebelah kiri merupakan bangunan yang berisi lampion, sementara sebelah kanan merupakan salah satu bangunan utama kuil.

Berusia 1.350 tahun, kuil yang berada di bagian timur kota Kyoto ini merupakan salah satu kuil Shinto populer di Kyoto. Karena berada di tengah-tengah daerah perbelanjaan yang ramai, pengunjung direkomendasikan untuk datang ke kuil ini pada waktu malam. Di malam hari, gemerlap lampu-lampu cantiknya menjadi daya tarik besar dari kuil ini. Memasuki area kuil, pengunjung akan disambut dengan dua patung singa penjaga, ciri khas lain dari kuil Shinto yang disebut koma-inu.

Dari gerbang utama, pancaran lampu-lampu akan mengantar para pengunjung hingga sampai ke tengah komplek. Di sana, pengunjung bisa  melihat sebuah bangunan yang dipenuhi ratusan lampion yang menyala. Juli adalah waktu yang tepat untuk mengunjungi kuil ini karena diadakannya festival Gion Matsuri. Dimulai pada 17 Juli, kuil ini akan dipenuhi umat yang melaksanakan prosesi dengan maksud menghalau bencana dan nasib buruk.

Itulah tiga kuil Shinto populer yang patut dikunjungi bila berwisata ke Negeri Sakura ini. Di balik ketiganya pun, masih ada ratusan ribu kuil Shinto yang bisa dieksplor.

Penulis: Christian Karnanda Yang

Editor: Hilel Hodawya

Foto: Christian Karnanda Yang