Menikmati Indahnya Alam dari Gunung Papandayan

Trek berbatu menjadi ciri khas pendakian Gunung Papandayan, Garut. (Sumber foto: kompasiana.com)
Share:

GARUT, ULTIMAGZ.com – Mendaki gunung menjadi salah satu olahraga yang tidak sekadar menyehatkan badan, tetapi juga menjadi bentuk kecintaan manusia pada alam. Olahraga yang semakin populer belakangan ini kemudian banyak dijadikan sebagai hobi bagi para pecinta olahraga yang memacu adrenalin. Beruntungnya, Indonesia memiliki sangat banyak gunung untuk didaki. Gunung Papandayan menjadi salah satu pilihan yang tepat jika Ultimates tertarik untuk mendaki gunung tetapi masih berada pada tahap pemula.

Gunung Papandayan terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Gunung ini memang sering menjadi gunung yang didaki oleh pendaki pemula. Jalur dan medan yang tidak begitu sulit serta puncak yang tidak terlalu tinggi yaitu 2.665 mdpl menjadi alasan mengapa gunung ini menjadi salah satu gunung yang sering didaki.

Harga tiket masuk kawasan Gunung Papandayan terbilang cukup mahal jika dibandingkan dengan gunung-gunung yang lain. Pendaki harus membayar Rp 65.000,- untuk sekali masuk dan bermalam. Namun, uang yang dibayarkan tersebut sebanding dengan keindahan Gunung Papandayan yang akan ditemui baik saat maupun setelah mendaki.

Camp David menjadi titik awal pendakian Gunung Papandayan. Pendaki akan melalui trek bebatuan dengan pemandangan yang indah. Di sini, pendaki diharapkan berhati-hati karena bebatuan yang ada cukup tajam. Terdapat trek yang landai, tetapi tidak sedikit pula yang curam sehingga membutuhkan energi ekstra. Tidak jarang, aroma belerang tercium selama perjalanan. Untuk itu, pendaki juga disarankan menggunakan masker penutup hidung dan mulut atau buff.

Ada dua pilihan tempat mendirikan tenda, yaitu Gober Hut dan Pondok Saladah. Gober Hut relatif lebih sepi, tetapi cocok bagi pendaki yang ingin langsung melihat sunrise hanya dengan membuka tenda. Sedangkan Pondok Saladah relatif lebih ramai dan lebih luas. Banyak pendaki lebih memilih untuk berkemah di Pondok Saladah karena selain terdapat beberapa warung dan kamar mandi, pemandangan yang disuguhkan pun relatif lebih apik.

Pendakian kemudian dilanjutkan menuju Hutan Mati. Hutan ini menjadi spot yang menarik bagi pendaki yang gemar selfie. Lokasi ini luas dengan pemandangan pohon yang terbakar setelah letusan tahun 2002.

Trek berikutnya menjadi trek yang paling sulit karena pendaki harus melalui trek dengan kemiringan 74,33 derajat. Tenaga ekstra diperlukan hingga akhirnya mencapai Tegal Alun, salah satu lokasi yang paling favorit dari seluruh kawasan Gunung Papandayan. Tegal Alun merupakan salah satu taman edelweiss terluas di Indonesia. Lokasi ini juga menjadi spot foto yang instagramable dan paling tidak boleh dilewatkan jika mendaki Gunung Papandayan.

Hamparan tanaman edelweis di Tegal Alun.
Hamparan tanaman edelweiss di Tegal Alun.

Tidak banyak pendaki Gunung Papandayan yang mencapai puncak karena jalur yang sudah tidak jelas akibat kebakaran tahun 2015. Namun, terdapat pula puncak semu setinggi 2.662 mdpl yang juga tidak mudah dicapai pemula karena treknya yang sulit dan jalurnya pun sudah tidak begitu jelas. Pendaki disarankan meminta bantuan petugas Gunung Papandayan untuk menjadi pemandu jika ingin menanjak.

Walaupun terbilang cukup mudah, tetap jangan sepelekan pendakian Gunung Papandayan. Ultimates tetap harus berhati-hati dan menjaga diri dengan baik. Persiapkan diri dengan baik dan bawa turun sampahnya, ya! Selamat mendaki!

Penulis: Geofanni Nerissa Arviana

Editor: Kezia Maharani Sutikno

Sumber: kompas.com, ngetripmulu.com

Foto: kompasiana.com, dokumentasi penulis