Prenjak Raih Penghargaan Film Pendek di Cannes Film Festival

Wregas Bhanuteja sutradara film "Prenjak" menerima penghargaan Leica Cine Discovery Prize di Cannes, Perancis.
Share:

PERANCIS, ULTIMAGZ.com – Film pendek berjudul Prenjak arahan surtadara Wregas Bhanuteja, dinobatkan sebagai film pendek terbaik oleh dewan juri segmen Critic’s Week ke-55 di Cannes, Perancis. Prenjak adalah film Indonesia pertama yang mendapat penghargaan di Cannes Film Festival, setelah 69 tahun diadakan.

Wregas yang berusia 23 tahun ini memenangkan Le Prix Decouverte Leica Cine, yang merupakan festival independen terpenting yang diselenggarakan bersamaan dengan Cannes Film Festival setiap bulan Mei. Filmnya menyisihkan film pendek terbaik yang dipilih dari 10 film yang diputar dalam kompetisi.

“Saya merasa bahwa ini adalah energi yang sangat besar bagi saya. Saya berharap agar api ini tetap menyala. Dan ketika saya pulang ke Indonesia, saya akan mulai membuat film lagi dan lagi,” kata Wregas, seperti yang dikutip dari BBC Indonesia.

Direktur artistik dari La Semaine de la Critique Cannes Charles Tesson juga sempat memberikan komentar terhadap Prenjak, yang dipilih dari 1.500 karya film pendek yang dikirim ke panitia festival tahun ini. “Ikuti sisi gelap dan nakal dari Prenjak, yang dibuat oleh sineas Indonesia Wregas Bhatuneja, di mana usaha menyambung hidup berharga sama dengan sebatang korek api,” tutur Charles.

Joko Anwar, dalam akun Twitter pribadinya menyatakan, kemenangan Prenjak di Cannes tidak hanya penting, namun juga sebagai dorongan sineas Indonesia untuk bereksplorasi dengan lebih berani lagi.

Prenjak mengisahkan kehidupan karyawan pada jam istirahat di sebuah kafe. Diah, salah seorang karyawan, mengajak Jarwo berbicara di gudang belakang. Diah yang membutuhkan uang dalam waktu cepat, menawarkan Jarwo untuk melihat bagian tubuh Diah menggunakan sebatang korek api seharga sepuluh ribu Rupiah.

Adapun film berdurasi 12 menit 40 detik ini dibuat hanya dalam waktu dua hari pada Februari 2016.

 

Penulis : Christoforus Ristianto

Editor : Alif Gusti Mahardika

Sumber : Rolling Stone/BBC Indonesia