Belajar dari Debat Pemimpin

Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Bulan demokrasi sudah selesai dilaksanakan di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Para pemimpin organisasi yang terpilih pun siap mengemban tugasnya selama 1 tahun. Apresisasi perlu kita berikan kepada mereka setelah melewati berbagai tahap untuk dapat menjadi pemimpin. Namun, ada hal-hal yang perlu dikritisi, seperti debat dua pasangan calon pemimpin Himpunan Mahasiswa Desain Komunikasi Visual (HMDKV) yang dihelat di Student Lounge UMN, Senin (30/10/17).

Sebelumnya, HMDKV memiliki dua Pasangan Calon (paslon), Damai Arungsamudra dan Michelle Edithya paslon 1 dan Fransiskus Xaverius Senna Adrianto-Raditya Pradnyatama paslon 2.

Kala debat, kedua paslon kembali menyampaikan visi dan misinya untuk menjadi ketua dan wakil ketua HMDKV. Visi dari paslon 1 adalah “Mengangkat nama baik almamater dan fakultas bersama mahasiswa DKV UMN dengan menjadi media aspirasi mahasiswa DKV UMN demi persada dan sesama.” Sedangkan visi dari paslon 2 adalah “Membangun dan meningkatkan hubungan serta semangat berkarya mahasiswa/i Desain Komunikasi Visual UMN.”

Berkaca dari visi kedua paslon, Fransiskus-Raditya sebenarnya memilki visi yang lebih nyata dan terfokus. Sedangkan visi Damai-Michelle terkesan kurang fokus dan tumpul.

Adapun untuk misi dari kedua paslon, Damai-Michelle memiliki misi sebagai berikut :

  1. Menampung dan merealisasikan aspirasi mahasiswa DKV UMN
  2. Menjadi rekan sekaligus pelaksana program-program kerja himpunan bersama dengan keluarga mahasiswa DKV UMN
  3. Mendukung perkembangan mahasiswa DKV UMN secara akademis maupun non-akademis
  4. Menjaga hubungan baik DKV UMN dengan pihak eksternal
  5. Menjembatani DKV UMN degan pihak eksternal terutama bidang seni dan desain

Sedangkan misi Fransiskus-Raditya adalah sebagai berikut :

  1. Menjangkau seluruh lapisan mahasiswa DKV UMN
  2. Membuat wadah yang dapat menampung kebutuhan berkarya mahasiswa DKV UMN
  3. Membuka ruang untuk beraspirasi secara terbuka dan transparan bagi mahasiswa DKV UMN.

Dari misi kedua paslon, misi Fransiskus-Raditya terlihat jauh lebih matang dibandingkan dengan misi dari Damai-Michelle . Misi dari paslon 2 tidak hanya memfokuskan program kerjanya pada hal internal tetapi juga eksternal. Seperti yang diketahui, DKV UMN kerap mengadakan pameran karya seni. Maka itu, akan lebih baik jika memiliki hubungan dengan pihak eksternal guna menaikkan eksistensi DKV UMN. Tak hanya itu, DKV UMN juga bisa mempromosikan dan memamerkan hasil karya mahasiswa jurusan mereka kepada pihak eksternal. 

Kendati demikian, untuk salah satu misi paslon 1 “Mendukung perkembangan mahasiswa DKV UMN secara akademis maupun non-akademis,” dinilai kurang jelas dan tidak konkret. Sedangkan untuk misi dari paslon 2, meskipun lebih sedikit dari misi paslon 1, namun visinya relevan dengan misi. Hanya saja, visi yang terfokus tidak diimbangi dengan misi yang beragam. 

Keseriusan

Ketika sesi debat dilaksanakan, terlihat beberapa kesalahan yang dilakukan oleh para kandidat. Misalnya pada paslon 1 Damai-Michelle. Damai sebagai calon ketua terlihat beberapa kali kehabisan waktu saat menyampaikan argumen. Pasalnya, jawaban atau argumen darinya terkesan bertele-tele dan tidak fokus. Sedangkan Michelle kurang tajam dan tidak rinci saat menyampaikan argumen sehingga waktu yang disediakan masih tersisa banyak.

Sementara pada paslon 2, kesalahan terlihat pada sikap tubuh dan tata bahasa. Hal itu terlihat jelas dari sikap tubuh Raditya yang terkesan tidak semangat dan lemas. Padahal, sikap tubuh yang baik juga diperlukan saat berada di depan umum, apalagi dalam sesi debat.

Tak pelik, hal itu berdampak pada kekuatan argumen. Sebab, pesan mudah diterima jika disampaikan dengan gestur tubuh dan mimik yang tegas serta percaya diri. Tak hanya itu, intonasi suara yang benar juga diperlukan.

Sedangkan Fransiskus, dirinya salah pada pemilihan diksi kata ketika menyampaikan argumen. Bahasa yang digunakan banyak menggunakan bahasa tidak baku sehingga kurang cocok dan mengurangi kesan keseriusan serta tingkat kecerdasannya berbicara.

Penulis : Theresia Bella Calista, mahasiswa jurusan Jurnalistik 2017 pemenang lomba opini bebas KPU UMN

Editor : Christoforus Ristianto