A Fantastic Woman: Semua Harus Setara

"A Fantastic Woman" sebagai pembuktian bahwa langkah menuju kesetaraan transgender yang masih minim hasil dengan pembawaan kasus-kasus diskriminasi yang menjadi pemicu utama. (Foto: IMDB)
Share:

TANGERANG, ULTIMAGZ.com โ€” Usai film Tangerine (Sean Baker, 2015) yang mengusung pemain dan cerita bertemakan transgender, perfilman Chili ikut menghadirkan kisah dengan tema serupa yang berjudul A Fantastic Woman.

Bermula dari ide fiksi karya penulis Sebastiรกn Lelio dan Gonzalo Maza, A Fantastic Woman diawali dengan gelutan romantika pasangan lelaki sepuh Orlando (Francisco Reyes) dan seorang transwoman Marina Vidal (Daniela Vega). Hidup mereka bahagia, tidak terbebani akan pikiran dari sekitar.

Pada suatu malam, Orlando tiba-tiba jatuh dan dibawa ke rumah sakit. Marina yang mengantarnya tampak gelisah. Dengan cepat, Marina harus kehilangan kekasihnya yang sudah dua tahun menjalani hubungan bersama.

Namun, kisah belum selesai di situ saja. Lelio mencoba mengemas segala titik masalah di fase-fase berikutnya. Fase di mana Marina harus menghubungi keluarga Orlando, mengabari mereka bahwa salah satu kerabatnya sudah meninggal.

Masalah dilanjutkan dengan keterlibatan mantan istri Orlando, anak laki-lakinya, dan seorang mata-mata yang diutus untuk melakukan penyidikan terhadap dirinya.

Semua fase yang harus dilalui oleh Marina tergambar jelas dan terasa begitu nyata layaknya cerminan sosial masyarakat sekarang ini. Hal ini dapat dilihat dari rasa waspada Marina yang berketerusan, karena tidak ada yang mengetahui bahwa Orlando memiliki hubungan khusus dengan seorang transgender.

Mereka saling cinta, layaknya kebanyakan orang. Sama seperti manusia jatuh cinta pada umumnya. Sama seperti bagaimana rasa untuk menaruh hati pada lelaki atau perempuan yang kita sayangi. Dan, hal itu tidak akan pernah bisa dituturkan.

Hak untuk Menjadi Setara

“Mengucapkan selamat tinggal untuk orang yang saya sayangi ketika dia meninggal adalah hak asasi tiap manusia, bukan begitu?” ucap Marina saat prosesi doa tubuh Orlando sedang berlangsung di luar gereja.

Kalimat yang diucapkan Marina itu kadang kala dapat membuat hati luar biasa terpukul. Di satu sisi, keluarga Orlando tidak menginginkan Marina datang di dalam prosesi. Namun, di sisi lain, Marina adalah seorang manusia yang sama seperti mereka. Ia hanya ingin mengucapkan selamat tinggal kepada orang yang ia cintai.

Berakar dari kisah cintanya, kehidupan Marina berubah menjadi petaka dan ledakan masalah besar. Kalau bisa memilih, mungkin ia akan memutuskan untuk terlahir sebagai seorang perempuan, atau bahkan berharap untuk tidak dilahirkan sama sekali.

Marina adalah pembuktian dari langkah kesetaraan atas transgender yang masih minim hasil. Gelutan permasalahan yang dialami Marina menjadi cerminan bahwa banyaknya masyarakat yang masih belum dapat menerima perbedaan terjadi karena orang-orang semacam mereka dinilai sebagai pelanggar aturan.

Pelanggar-pelanggar peraturan inilah yang harus dimusnahkan.

Meski terdengar sinis, namun itu adalah hal yang mustahil. Marina dan banyak sekali warga transgender di dunia telah menjadi cermin bagi para manusia agar tidak hanya hidup sebagai pengikut, melainkan sebagai seorang pelopor.

Keberanian Marina kini telah menjadi contoh di banyak negara. Tidak hanya karena kisah tentang seorang transgender, namun semangat hidupnya yang kuat juga akan terus menginspirasi orang banyak.

 

Penulis: Felix

Editor: Gilang Fajar Septian

Foto: IMDB