Menilik Lebih Dalam Fenomena Friendzone

Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Pada umumnya hubungan pertemanan kerap kali menjadi awal mula dari hubungan yang lebih serius. Berangkat dari hubungan tersebut, seringkali timbul perasaan yang lebih spesial. Namun apa jadinya jika perasaan tersebut hanya dirasakan oleh salah satu pihak saja?

Di kalangan remaja milenial, friendzone atau menjadi ungkapan yang menggambarkan kejadian di atas. Friendzone sendiri merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut hubungan yang dimulai dari pertemanan namun, seiring berjalannya waktu, salah satu di antara keduanya memiliki perasaan lebih terhadap temannya. Sebaliknya salah satu pihaknya hanya mengganggap hubungan tersebut hanya sebatas pertemanan dan menempatkan pihak lain tersebut dalam ‘zona teman’.

Hubungan pertemanan antara laki-laki dan perempuan dipercaya tidak akan berjalan dengan normal karena ada kemungkinan salah satu di antaranya memiliki perasaan lebih. Hal tersebut biasanya bermula dari intensitas pertemuan dan interaksi yang dilakukan oleh keduanya yang terkesan ‘manis’. Dalam konteks ini kata manis berarti perlakuan yang lebih spesial dibandingkan dengan teman yang lain sehingga menimbulkan perasaan nyaman.

Jika dibiarkan, friendzone bisa menjadi pembatas bahkan perusak hubungan pertemanan sebab pertemanan yang dijalin keduanya tidak lagi berlandaskan kepedulian antar teman melainkan munculnya harapan untuk melangkah ke jenjang yang lebih lanjut. Lantas apakah yang harus dilakukan untuk terlepas dari jeratan friendzone?

Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah mengurangi intensitas pertemuan kalian, berhenti menjadi sosok yang selalu ada bagi dia, dan bandingkan pandangan kalian tentang hubungan yang lebih serius untuk menilai seberapa pantaskah dia untuk diperjuangkan. Selain untuk menjaga agar hubungan kalian lebih stabil, hal tersebut juga menjauhkan kalian dari perasaan sakit yang berlebih.

Sedangkan untuk mengantisipasi terjadinya friendzone, sebaiknya kalian harus memikirkan ulang tujuan awal dari hubungan pertemanan tersebut. Apakah dia sosok yang tepat dijadikan pasangan ataukah hanya sebatas sahabat. Karena pada hakekatnya segala hubungan haruslah berlandaskan rasa nyaman satu sama lain. Akan tetapi, kembali pada penilaian diri sendiri tentang batasan dari rasa nyaman tersebut.

Penulis: Natalia Setiawan, Farrel Adam

Editor: Kezia Maharani Sutikno

Foto: heartiste.files.wordpress.com