‘Who Moved My Cheese?’: Buku Tentang Kebenaran “Move On” yang Mendunia

'Who Moved My Cheese?' (Edisi 2017) karya Spencer Johnson, M.D. merupakan buku terlaris dengan lebih dari 10 juta eksemplar yang telah diterbitkan. (Sumber foto: Elexmedia.co.id)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com Apakah Ultimates pernah mengalami move on? Move on adalah istilah mendunia yang selalu dikaitkan dengan percintaan romantis. Namun, move on mempunyai makna yang jauh lebih dalam dari sekadar melupakan rasa ketertarikan romantis terhadap seseorang yang dikarenakan oleh terjadinya suatu pemutusan hubungan.

Dari sekian banyak buku yang dapat menjelaskan kekeliruan makna move on, terdapat satu buku yang mampu memberikan kesadaran makna move on dengan bahasa mendongeng yang indah. Bahasa tersebut tersirat dalam buku ‘Who Moved My Cheese?

‘Who Moved My Cheese?‘ adalah buku self-improvement yang menggunakan perumpamaan cerpen sederhana yang menceritakan kebenaran sejati tentang perubahan. Kebenaran sejati tersebut adalah suatu pemikiran bagaimana seharusnya move on dimaknai dan dilakukan. Move on bukanlah sebuah kekalahan, melainkan sebuah kemenangan karena dapat mengikhlaskan sesuatu yang berharga bagi diri kita untuk masa depan yang lebih baik. Suatu pemikiran yang sederhana, tetapi selalu dilupakan.

Ditulis oleh Spencer Johnson, M.D. yang telah meraih gelar #1 International Bestseller, Who Moved My Cheese?‘ telah terjual dengan oplah satu juta eksemplar dalam 16 bulan pertama, dan 21 juta eksemplar dicetak dalam lima tahun berikutnya. Pada tahun 2005, ‘Who Moved My Cheese?‘ bahkan dinyatakan Amazon.com sebagai buku paling laris dalam sejarah.

Perumpamaan dalam buku yang diekspresikan dengan cerpen singkat tersebut menceritakan mengenai dua tikus dan dua kurcaci yang rela menyusuri labirin yang sangat dalam dan berliku-liku untuk mencari “Cheese” yang terdapat dalam Cheese Station yang tersebar di dalam labirin untuk mendapatkan makanan dan bertahan hidup.

Dua tikus dan dua kurcaci tersebut melambangkan perbedaan-perbedaan antara suatu individu dalam bereaksi kepada suatu perubahan. Dua tikus tersebut bernama Sniff dan Scurry, dan dua kurcaci tersebut bernama Hem dan Haw. Kedua tikus cenderung melakukan tindakan yang spontan dan sederhana, sedangkan kedua kurcaci cenderung melakukan tindakan yang menalar dan rumit. 

Labirin melambangkan pilihan hidup yang berliku-liku dan mempunyai potensi menyesatkan. Namun, diperlukan untuk meraih sebuah tujuan yang diinginkan oleh seseorang. Jalan tersebut dapat berupa ilmu, pengalaman kerja, pekerjaan, dan setiap jerih payah yang Anda lakukan.

“Cheese” melambangkan hal-hal yang diinginkan dan didambakan oleh orang-orang, yang mana selalu berbeda-beda pada setiap individu. Setiap individu mempunyai tujuan masing-masing seperti, keluarga yang harmonis, kekayaan material, kekuasaan atau ketenangan batin.

Buku ini dapat dibaca oleh semua kalangan, dan ending-nya bisa didapatkan dalam waktu satu jam. Namun, keterbukaan untuk berbagai penafsiran selalu menancapkan nilai dari buku tersebut dalam jangka panjang, bahkan seumur hidup.

Mengapa buku ini layak Ultimates baca? Sebab, setiap orang pastinya mempunyai paling tidak satu permasalahan yang selalu membekas pada hati mereka dan membentuk mereka menjadi orang-orang yang kita kenal sekarang. Permasalahan tersebut dapat berupa penyesalan, kelalaian, pengandaian, bahkan trauma sejak kecil.

Permasalahan yang membekas tersebut bukanlah untuk dilupakan, melainkan untuk diterima dan dipahami. Penerimaan dan pemahaman membawa kepada keikhlasan yang membawa seseorang untuk menjadi semakin dewasa dan siap menghadapi masa depan. Kesiapan menghadapi masa depan itulah yang menjadi move on sesungguhnya

Buku ini dapat Ultimates termukan di Gramedia, di bawah penerbit PT Elex Media Komputindo pada kategori Self-Improvement dengan harga Rp74.800.

Salam move on!

 

Penulis: Ignatius Raditya Nugraha

Editor: Gilang Fajar Septian

Sumber: Who Moved My Cheese? – Spencer Johnson, M.D.

Foto: Elexmedia.id