Opini: Teroris itu Bukan Pencuri Ayam

(Sumber Ilustrasi: Merdeka.com)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Densus 88 Anti Teror sering menerima tanggapan dan respon dari masyarakat terkait aksi mereka dalam melawan teroris. Namun, di antaranya juga terdapat beberapa kritik tidak membangun, menjatuhkan, bahkan meremehkan terorisme yang dapat membahayakan keselamatan masyarakat itu sendiri.

Contohnya dapat dilihat pada awal Juni lalu, atau saat Densus 88 memasuki Kampus Universitas Riau (UNRI) karena informasi keberadaan tiga alumni terduga teroris dan empat buah bom. Namun, aksi tersebut dikritik oleh Fahri Hamzah, Wakil Ketua DPR. Fahri mengatakan bahwa penggeberekan tersebut merupakan tindakan yang menekan aktivis mahasiswa melalui ancaman aparat bersenjata di lingkungan kampus. Padahal, pihak kampus sendiri mendukung aksi Densus 88 untuk menangkap tiga alumni UNRI terduga teroris tersebut.

“Berkaitan penggerebekan di kampus menggunakan senjata laras panjang karena yang digerebek bukan pencuri ayam,”ujar Irjen Nandang, Kapolda Riau dalam menanggapi kritik Fahri.

Pernyataan yang tidak biasa tersebut menimbulkan pertanyaan: Apakah sebagian masyarakat Indonesia kurang menyadari bahaya teroris hanya untuk memenuhi ego, khususnya kepentingan politik?

Perjuangan Nyawa yang Direndahkan

Tito Karnavian, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia bahkan mengingatkan bahwa polisi di Indonesia sudah menggagalkan 500 rencana teroris di Indonesia sejak tahun 2012 hingga 2018. Hal tersebut sekaligus mengingatkan bahwa Indonesia selalu dalam keadaan genting dengan terorisme, terutama jika mengintip kembali tragedi Mako Brimob dan peledakan bom di tiga gereja Surabaya pada tahun ini.

Namun sangat disayangkan, perjuangan Densus 88 menerima banyak fitnah, hujatan, dan kritik tanpa solusi dari sebagian masyarakat. Reaksi negatif masyarakat tersebut adalah berbagai tuduhan, seperti pembenaran pembunuhan tanpa bukti kepada golongan tertentu, bentuk represif kepada golongan tertentu, dan settingan oleh pemerintah.

Benar atau tidaknya tuduhan-tuduhan tersebut dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, salah satunya bisa dilihat dari peran media dalam memberitakan terorisme.

Peran Media dalam Memberitakan Terorisme

Ketua AJI (Aliansi Jurnalis Indonesia) Tanjungpinang, Jailani, menyatakan bahwa tindakan memberitakan aksi terorisme hanya untuk kepentingan publik. “Untuk itu, dalam melakukan peliputan, jurnalis harus berpegang pada kode etik jurnalistik yang mengatur independensi, akurasi berita, keberimbangan, iktikad baik, informasi teruji, membedakan fakta dan opini, asas praduga tak bersalah, perlindungan terhadap narasumber dan orang-orang yang berisiko,” jelas Jailani.

Peraturan Dewan Pers Nomor 01/Peraturan-DP/IV/2015 tentang Pedoman Peliputan Teroris dapat menjadi landasan untuk mengatasi tiga kesalahpahaman masyarakat yang umum dalam menanggapi berita terorisme yang diberitakan oleh media:

  1. Status ‘Terduga’ yang Ditangkap dan Ditembak Mati

Baru status “terduga”, apakah bisa ditangkap dan ditembak mati? Menurut Pedoman Peliputan Teroris, wartawan menggunakan istilah “terduga” bagi semua orang yang akan ditangkap aparat sebelum dibuktikkan di pengadilan. Orang dengan status “terduga” atau istilah lainnya “tersangka”, adalah seorang yang karena perbuatannya dan keadannya, berdasarkan bukti permulaan (minimal 2 alat bukti) patut diduga sebagai pelaku tindak pidana menurut Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).Oleh karena itu, status “terduga” ditetapkan setelah ditemukan bukti  oleh aparat keamanan.

Sedangkan untuk kasus penembakan mati terduga teroris dapat dibenarkan apabila dilakukan dalam rangka menjalankan tugas atau penangkapan dalam keadaan terpaksa seperti melakukan perlawanan atau membahayakan masyarakat sekitar, seperti yang sudah diatur dalam Pasal 49 KUHP. Mengapa hanya dalam keadaan terpaksa? Karena tindakan menghilangkan nyawa seseorang tanpa melalui putusan pengadilan juga melanggar hukum bagi siapapun.

  1. Minimnya Foto-Foto Korban Terorisme

Bila benar ada aksi terorisme, mengapa sulit menemukan foto-foto korban? Ketiadaan atau minimnya keberadaan foto korban selalu mengundang kecurigaan dari sebagian masyarakat. Padahal menurut Pedoman Peliputan Terorisme, wartawan wajib menghindari menyiarkan foto atau adegan korban terorisme yang berpotensi menimbulkan ancaman dan pengalaman traumatik. Contohnya, foto korban yang terkena bom dan foto teroris yang ditembak mati oleh aparat.

Mengapa wajib menghindari menyiarkan foto teror? Karena tidak semua foto layak untuk dilihat oleh publik, terutama anak-anak dan orang-orang dengan kemampuan mental yang tidak memadai. Terlebih lagi, jika disebarkan hanya membantu teroris dalam menyebarkan teror.

  1. Penangkapan Teroris Untuk Menyudutkan Suatu Kelompok

Argumen yang satu ini biasanya berasal dari media sosial seperti Facebook, WhatsApp, dan Instagram yang tidak kredibel dan menjadi salah satu alat penyebar hoax (Informasi palsu) dan teror. Sebagai contoh, pernah beredar sebuah kabar melalui WhatsApp yang menyatakan bahwa penangkapan terduga teroris di Medan, Sumatera Utara, yang menyatakan bahwa tim Densus 88 Antiteror mengamankan Al-Quran sebagai barang bukti pada 15 Mei 2018.

Kabar WhatsApp itu menyatakan klaim bahwa berita tersebut didapatkan dari artikel video tribunnews.com yang dimuat tanggal 17 Mei 2018. Berita tersebut melaporkan penggeledahan rumah seorang driver ojek online karena diduga sebagai teroris. Kabar WhatsApp tersebut mengaku telah mengutip artikel: “Dalam penggeledahan tersebut, petugas mengamankan sejumlah barang bukti yaitu Al-Quran besar 1 buah, Al Quran kecil 1 buah, kaset CD, dan buku notes warna merah berisikan foto kopi KTP.”

Namun, kutipan tersebut ternyata berbeda dengan artikel yang sebenarnya. Kalimat asli di artikel tertulis: “Dalam penggeledahan tersebut, petugas mengamankan sejumlah kaset CD, dan buku notes warna merah berisikan foto kopi KTP.” Hal ini dikonfirmasi oleh tribunnews.com sendiri beserta penegasan dari Karo Penmas Divisi Humas Brigjen Polri Mohammad Iqbal bahwa Polri tidak pernah menjadikan Al-Quran sebagai barang bukti. Penegasan tersebut dilakukan untuk merespon petisi berjudul ‘Alquran Bukan Barang Bukti Kejahatan’ dari change.org yang telah ditandatangani oleh 14.000 lebih netizen.

Adapun, masih pantaskah usaha-usaha Densus 88 yang mempertaruhkan nyawa untuk menerima balasan berupa hujatan dan ejekan sebagian masyarakat hanya demi membela ‘kemanusiaan’ bagi para teroris?

Klarifikasi terhadap kesalahpahaman masyarakat harus selalu dilakukan untuk memerangi simpatisan teroris. Sebab, teroris itu bukan pencuri ayam, melainkan pembunuh dan pemecah belah bangsa Indonesia.

 

“Terorisme adalah perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas, yang dapat menimbulkan korban yang bersifat massal, dan atau menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis, lingkungan hidup, fasilitas publik atau fasilitas internasional dengan motif ideologi, politik, atau gangguan keamanan,” – Muhammad Syafi’i.

 

Penulis: Ignatius Raditya Nugraha

Editor: Gilang Fajar Septian

Sumber: Detik.com, Tribunnews.com, channelnewasia.com, BBC.com.

Ilustrasi: Merdeka.com