Salah Komunikasi, Sebab-akibat Pro-kontra Kebijakan

Share:

Rabu (26/04/17), muncul surat elektronik yang dibagikan melalui Official Account Line DKBM UMN dan membuat pro-kontra di kalangan mahasiswa. Ada yang membahas larangan penggunaan plastik untuk penggalangan dana sampai larangan jajan atau membeli dagangan para pedagang kaki lima di sekitar kampus UMN. Surat tersebut berisikan kebijakan yang harus dipatuhi mahasiswa.

Mahasiswa diharapkan mendukung secara positif kebijakan kampus UMN untuk mewujudkan kampus Go Green. Namun mahasiswa mana? Setelah diklarifikasi ke beberapa pihak, ternyata perwakilan mahasiswa, yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Dewan Keluarga Besar Mahasiswa (DKBM) mengaku belum mengetahui secara detail pembuatan surat tersebut sampai surat tersebut secara elektronik.

Seperti yang diketahui mahasiswa, UMN telah menyandang predikat sebagai pengguna gedung hemat energi. Namun hadirnya surat tersebut mengundang pro-kontra. Kalau dilihat dari tuturan kalimat kebijakan yang dibuat memang ditujukan dengan maksud yang positif dan baik demi mewujudkan kampus yang go green.

Apalagi, menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia merupakan negara penyumbang sampah plastik terbesar ke-dua dengan jumlah 10,95 juta lembar sampah plastik per tahun. Tentu hal tersebut disadari oleh pihak kampus yang tidak ingin berpartisipasi menyumbang sampah plastik.

Pertama, permasalahan dasarnya bukan penggunaan plastik, ketersediaan tempat merekok, atau tidak memberikan dukungan positif pada kebijakan kampus. Melainkan, akan lebih baik jika para pembuat kebijakan jangan selalu ketok palu ketik peraturan dengan mengatasnamakan kenyamanan bersama, tapi tidak melibatkan segala lapisan dan unsur yang ada di UMN.

Alangkah baiknya merangkul semua lapisan, dari yang duduk di emperan trotoar sampai yang di sofa ruang ber-AC, baru menentukan langkah terbaik selanjurnya. Sehingga, mereka bisa saling bertukar pikiran mencari solusi terbaik dalam membuat kebijakan, dibarengi infrastruktur dan fasilitas yang sudah siap agar tidak merugikan pihak manapun, baik di dalam kampus maupun elemen luar kampus.

Kedua, kami menerima bahwa kampus UMN adalah kampus netral yang memegang prinsip teguh Kompas Gramedia, jauh dari demo dan tindakan anarki. Tapi jangan lupa bahwa mahasiswa ialah bagian dari masyarakat ilmiah yang terus berpikir dan terus belajar. Kami juga peduli dengan sekitar kami satu sama lain, selain akademis. Kami juga ingin mempersembahkan yang terbaik untuk almamater, persada, bangsa, dan sesama. Tapi kalau kita sendiri dari dalam tidak kompak dan rekat satu sama lain, mau jadi apa kita di lihat dari luar. Tampilan wajah kampus saja yang baik, namun unsur tenaga pendidik, karyawan, sampai mahasiswa nya terpecah belah, apatis, dan bermental masa bodo semua.

Ketiga, kami menyadari bahwa sebenarnya berjualan kaki lima di area Summarecon tidak diperbolehkan. Hanya diperbolehkan jika menyewa atau membeli ruko yang tersedia di wilayah Summarecon. Buktinya, setiap ada patroli, para pedagang tersebut diusir, ditabrak, atau mungkin dipalaki. Kami juga sadar bahwa Summarecon ingin menyediakan jalur hijau bagi kenyamanan penghuni. Mungkin juga, pihak kampus sudah ditegur oleh pihak Summarecon perihal masalah ini.

Namun bisa dilihat kembali, berapa sih yang penghasilan yang didapat oleh para penjaja dagangan tersebut setiap harinya. Apakah cukup untuk menyewa ruko yang rumornya berbiaya sewa paling murah satu milyar pertahun? Itupun belum termasuk tumpukan hutang pembeli yang ditanggung oleh para pedagang.

Usul saya ialah, akan lebih baik jika kampus mau memberikan konsep kantin outdoor. Diharapkan, dengan merelokasi dan merangkul mereka, pedagang bisa masuk dengan biaya sewa lebih murah, semua unsur bisa menerima, dan tidak menghentikan mata pencaharian orang lain. Jam operasional kantin bisa bergantian dengan Libro yang tidak buka selama 24 jam. Kita tidak bisa mengeneralisasi bahwa semua mahasiswa, mampu untuk terus jajan di kantin yang ada sekarang (Libro Group).

Kita harus melihat adanya mahasiswa yang kebetulan menipis uang jajannya, nge-kos ataupun berkegiatan sampai larut. Adanya konsep kantin outdoor dapat membantu mahasiswa bisa jajan dan terus semangat di kampus karena merasa diperhatikan oleh pihak kampus, dan mengenal kampusnya lebih dekat.

Lalu apakah siap, kampus menyediakan Tap Water Purifier agar mahasiswa tidak membeli botol plastik, melainkan membawa botol minum pribadi dan dapat mengisinya kembali di kampus? Itu dapat juga menjadi solusi mengurangi sampah plastik.

Terakhir, semoga teman-teman yang kebetulan dipercaya sebagai bagian unsur dalam perwakilan dan media mahasiswa bisa bijak, amanah, dan vokal sebagai corong bersuara kami. Kami mengerti bahwa posisi kalian sulit serba salah berada di tengah-tengah. Jangan pernah kehilangan harapan dan terjebak pada zona nyaman.

Jika kalian vokal, kami ada di belakangmu, suarakan suara-suara yang dibungkam dan minoritas. Biasakan komunikasi dua arah antara atas dan bawah agar menjadi nyaman bersama. Berilah ruang untuk berpendapat, maka pastilah semua unsur elemen dalam UMN berjalan dengan nyaman, lancar, dan baik. Kalian pasti bisa. Semangat!

Penulis: Albertus Prahasta Wibowo, Sinematografi 2013 UMN (kontributor)

Editor: Clara Rosa Cindy

Foto: victoriaerfle.com