Xavier Dolan dan Koneksi “Queer Cinema”

Xavier Dolan dalam kontribusinya di industri perfilman, baik sebagai penulis, sutradara, maupun aktor. Karya-karyanya ikut andil sebagai pelopor di industri khususnya dalam ranah Queer Cinema. (Huffingtonpost.com)
Share:

TANGERANG, ULTIMAGZ.com Muncul singkat dalam film televisi Miséricorde, Xavier Dolan mulai menjajal dunia perfilman di tahun 1994. Memasuki ranah industri dengan peran kecilnya, saat ini ia dikenal sebagai seorang penulis sekaligus sutradara.

Terlahir dengan nama lengkap Xavier Dolan-Tadros, pada 20 Maret 1989 di Montreal, Kanada, Dolan mulai dikenal lewat peran besarnya di film J’ai tué ma mère, di mana ia menyandang peran sebagai aktor, penulis, sutradara, dan produser.

J’ai tué ma mère sendiri adalah film pertama dengan skenario asli yang ia buat langsung. Mengusung tema utama dari debutnya sebagai salah satu pelopor berpengaruh, Queer Cinema.

Queer Cinema adalah rujukan terhadap film-film yang bertema sentral tentang homoseksualitas di paruh ceritanya.

Kemunculan Dolan di Queer Cinema bukanlah yang pertama di dunia seni akting. Empat tahun sebelumnya, sutradara asal Taiwan Ang Lee sempat memukau audiens dengan keberhasilannya mengarahkan salah satu film bergenre serupa, Brokeback Mountain (2005).

Tidak hanya berkontribusi di J’ai tué ma mère, Dolan juga turut ambil bagian dalam beberapa judul film seperti Les Amours Imaginaires, Laurence Anyways, Indochine: College Boy, dan Tom à la Ferme. Dari kelima film pertamanya itu, ia seolah berputar di lingkaran tema yang sama, yakni Queen Cinema.

Keragaman dalam Bercerita

Meski dalam lingkup tema serupa, Dolan tetap mampu memperlihatkan kepiawaiannya memunculkan keragaman di setiap cerita. Seperti pada Laurence Anyways dimana ia berporos pada kaum trans, dan kebalikannya di Les Amours Imaginaires ketika dirinya melakukan eksperimen terhadap karakter biseksual.

Ia pun mengakui semua karakter yang ia bawa dalam cerita merupakan realita yang ia rasakan dan yang ia amati.

Terlepas dari latar belakang orientasi dirinya, Xavier tetap membuat kisah yang memang relevan pada penonton dan berpacu pada kehidupan manusia pada umumnya.

Keragaman yang ia ambil, ditambah perbedaan dan inovasi karakter yang baru, membuat karya-karya Dolan tidak perlu diragukan. Film debutnya pun sukses membuktikan bahwa dirinya memang layak mendapatkan tiga penghargaan langsung di ajang Cannes Film Festival 2009 untuk J’ai tué ma mère.

Pria yang telah genap berusia 29 tahun ini telah mengantongi 69 kemenangan dan berhasil masuk ke dalam 97 nominasi penghargaan. Pun, mayoritas berkat hasil kinerja kerasnya di ranah industri Queer Cinema.

Kejujuran dalam bercerita memang menjadi “senjata utama” di film-film Dolan, yang juga melatar belakangi kisah personalnya. Seperti sebuah buku harian, dari film yang ia buat kita bisa melihat sosok Xavier Dolan yang sebenarnya.

 

Penulis: Felix

Editor: Gilang Fajar Septian

Foto: Huffington Post