Perjuangan Hidup Dua Remaja dalam All the Bright Places

Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com — Apa yang terjadi jika seorang perempuan yang memiliki trauma belajar untuk bertahan hidup dari seorang lelaki yang berniat untuk mati? Hal yang tidak biasa ini dialami oleh Theodore Finch dan Violet Markey, dua karakter utama dalam novel All the Bright Places karya Jenniver Niven.

Novel yang rilis pada 2015 ini mengisahkan tentang dua remaja, yaitu Finch dan Violet, yang memiliki perjuangan dalam kehidupan masing-masing. Finch mengidap penyakit mental dan selalu memikirkan cara untuk mengakhiri hidupnya, namun ia selalu berusaha mencari alasan agar tetap bisa bertahan hidup. Sementara itu Violet juga memiliki trauma akibat kecelakaan lalu lintas yang merenggut nyawa kakak perempuannya.

Kedua remaja tersebut bertemu di menara lonceng sekolah ketika Violet hendak melompat dan Finch tiba-tiba datang menolongnya. Sejak itu, mereka menjadi dekat dengan satu sama lain, terutama ketika keduanya harus bekerjasama dalam proyek sekolah yang mengharuskan mereka untuk menjelajahi Kota Indiana, kota tempat tinggal mereka.

Seiring berjalannya waktu, Violet akhirnya dapat keluar dari zona nyamannya berkat bantuan Finch, dan ia juga mencoba untuk membantu Finch dengan memberi alasan untuk hidup. Namun, tanpa mereka sadari, menolong satu sama lain bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan.

Novel ini menuai beberapa pujian, salah satunya adalah tema cerita yang membahas tentang beberapa isu yang kerap kali dialami oleh para remaja. Selain itu, alur cerita yang ditulis secara baik juga membuat pembaca semakin tertarik dengan kontennya.

“Alur cerita berhasil ‘menyentuh’ beberapa isu sensitif seperti kehidupan, kematian dan cinta. Buku ini akan selalu kuingat dan aku juga dapat membacanya berulang kali. Saya benar-benar jatuh cinta dengan alur serta karakternya dan cerita itu juga ditulis dengan indah,” ujar netizen dengan username Tashtastic seperti yang dilansir di theguardian.com.

Namun, beberapa juga mengkritik bahwa cerita tersebut menunjukkan gambaran yang kurang realistis terhadap penyakit mental, terutama jika dikaitkan dengan aspek percintaan.

“Tolong, (penulis Young Adult (YA)), jangan sentuh topik ini kecuali Anda tahu apa yang Anda lakukan. Penyakit mental tidak memerlukan penggambaran keliru seperti ini hanya untuk dimasukkan ke dalam karya fiksi,” ujar Katty, salah satu pembaca novel All the Bright Places yang menuliskan pandangannya melalui situs katalog buku goodreads.com.

Penulis: Audrie Safira Maulana

Editor: Hilel Hodawya

Foto: jenniverniven.tumblr.com

Sumber: jenniverniven.com, goodreads.com, theguardian.com