Pesan Positif Keluarga dalam “A Wrinkle In Time”

(dari kiri-kanan) Calvin, Charles Wallace dan Meg dalam salah satu adegan dalam film Disney A Wrinkle In Time. (cinemablend.com)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Mengisahkan petualangan seorang gadis bernama Meg Murry (Storm Reid) yang ingin menemukan kembali ayahnya, Alex Murry (Chris Pine), A Wrinkle In Time memiliki banyak pesan positif mengenai keluarga. 

Sejak menghilangnya sang ayah empat tahun lalu, diceritakan sikap dan prestasi Meg berubah. Awalnya ia dikenal sebagai seorang murid yang cerdas. Namun, sekarang Meg cenderung menarik diri dari pergaulan pendidikan menengah pertamanya. Dalam film ini, diceritakan pula Meg yang menjadi merupakan korban perundungan (bully) oleh gadis di sekolahnya, Veronika (Rowan Blanchard) yang ternyata juga tetangga Meg.

Walaupun Meg pendiam, adiknya yaitu Charles Wallace (Deric McCabe) merupakan anak laki-laki yang cerdas dan aktif menghibur kakaknya. Hubungan mereka sebagai saudara terlihat sangat dekat walaupun Charles Wallace bukan adik kandungnya.

Sepanjang perjalanan mencari ayah mereka bersama Calvin O’Keefe (Levi Miller), Mrs. Which (Oprah Winfrey), Mrs. Who (Mindy Kaling), dan Mrs. Whatshit (Reese Whiterspoon), Meg dan Charles Wallace seperti surat dan prangko. Meg terus meyakinkan bahwa Charles Wallace adalah adik satu-satunya yang akan terus bersamanya.

Ketika berada di dalam Camazotz, tempat tinggal IT – benda luar angkasa bewarna hitam yang jahat – Meg malah kehilangan Charles Wallace. Ia terjebak pada salah satu ujian yang diberikan IT untuk Meg, Calvin, dan Charles Wallace. Sikapnya berubah 180 derajat. 

Kala itu, Meg sangat berani. Ia malah membiarkan ayahnya pergi dengan Calvin, berhasil tesser (istilah yang dipakai dalam film Disney ini saat hendak pergi ke dunia dimensi lain), dan menemui wujud Charles Wallace yang berubah menjadi ‘jahat’. Dalam adegan tersebut, Charles Wallace yang biasanya menyemangati kakaknya malah menjatuhkan Meg dengan cemoohan. Ia menyebutkan semua kekurangan Meg yang justru dibalas dengan pernyataan bahwa dirinya sangat menyayangi Charles Wallace.

Namun, kata kunci ”love” menjadi kelemahan IT dan Meg berhasil melawannya. Pada akhirnya, keluarga Meg berkumpul dengan ayahnya dan tentunya Charles Wallace.

Kisah Meg yang diangkat dari novel A Wrinkle In Time karya Madeline L’Engle tahun 1962 berhasil divisualisaikan  dengan baik melalui film ini. Selain diajak menjadi bagian dari keajaiban saat para tokoh akan melakukan tesser, makhluk-makhluk fiksi pun terlihat sangat nyata.

“Imbalan adaptif yang besar ini lebih emosional daripada teknis, namun, berkat pertunjukan yang menyentuh, tema inklusif, dan pesan inspiratif, mudah untuk menghargainya,” kata kritikus Sandie Angulo Chen, dikutip dari Common Sense Media.

Sayangnya, peran sang ibu, Kate Murry (Gugu Mbatha-Raw) tidak terlalu ditonjolkan dalam film A Wrinkle In Time.

Nilai untuk kisah Meg ini memang mendapat angka yang cukup rendah, yaitu 40% dari Rottentomatoes.com, 4.2/10 oleh imdb.com, dan angka 53 dari metacritic.com. Kedudukan A Wrinkle In Time tidak bisa mengalahkan Black Panther yang berada di puncak Box Office.

Meskipun begitu, film dengan PG (Parental Guidance) ini cocok untuk Ultimates tonton dengan keluarga di akhir pekan. Film karya Ava DuVernay ini sudah diputar di layar lebar tanah air sejak Jumat (16/03/18).

Penulis: Rachel Rinesya Putri

Editor: Geofanni Nerissa Arviana

Sumber: nytimes.com, imdb.com, rottentomatoes.com, commonsensemedia.org, metacritic.com

Foto: cinemablend.com