Visualisasi Fatamorgana dalam Karya Mahasiswa Tingkat Akhir

Dua orang penonton sedang menunggu dimulainya sesi ketiga screening film tugas akhir mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) dalam rangkaian acara yang diselenggarakan oleh Imago di Lecture Hall, Gedung C UMN, Serpong pada hari Senin (9/10/17) lalu. Screening sesi ketiga sendiri memutar film-film dalam tajuk "Fatamorgana".
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – IMAGO 2017: Oasis mempertunjukkan screening karya-karya mahasiswa tahap akhir bertajuk ‘Fatamorgana’ pada Senin (09/10/17) di Lecture Hall Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Adapun screening ini merupakan sesi terakhir dari tiga rangkaian sesi screening hari itu.

Sebelum sesi Fatamorgana, terdapat dua sesi screening lainnya yakni Balada Animasi dan Karma Gaya Baru. Ketiga sesi ini menampilkan karya-karya mahasiswa Fakultas Seni dan Desain tahap akhir UMN, baik karya yang sudah pernah ditampilkan sebelumnya maupun yang belum.

Ketiga segmentasi ini didasarkan pada makna yang berusaha disampaikan tiap kreator. Dalam Fatamorgana terdapat tiga karya yang disuguhkan bagi penonton, yakni Sebelah Mata, Semasa, dan Senja Bersemi. Ketiga karya ini dibuat oleh mahasiswa tingkat akhir memiliki genre yang beragam.

(Lihat juga: Resmi Dibuka, IMAGO 2017: Oasis Diharapkan Jadi Ajang Standardisasi Lulusan UMN)

Kisah kehidupan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Tangerang diangkat dengan gaya dokumenter oleh prosuder film Sebelah Mata Angelina Setio. Pada film ini dikisahkan kehidupan narapidana yang acap kali dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Pada film tersebut, Angel mengangkat kisah kehidupan sehari-hari narapidana di Lapas Tangerang.

Narapidana yang pada umumnya dikenal diberi label secara ekstrim oleh masyarakat ternyata masih melakukan kegiatan layaknya manusia biasa. Salah satu yang kerap ditunjukkan adalah ketaatan dalam beribadah.

Beberapa cuplikan narapidana yang sedang menyanyikan lagu rohani dan menjalankan ritual ibadahnya kemudian membuat audiens paham mengenai judul Sebelah Mata yang diusungnya. Film ini tidak menggunakan teks atau narasi untuk menjelaskan potongan-potongan gambar yang disuguhkan pada penonton.

Pun demikian tak berbeda dengan film Senja Bersemi karya Livia Agatha. Film ini juga menjelaskan sisi lain kehidupan di sebuah panti jompo. Perbedaannya, film ini mengusung gaya drama fiksi nan humoris untuk menghibur penontonnya.

Kisah seorang kakek yang berusaha memenangkan hati seorang nenek dengan memutar lagu-lagu lawas untuk menarik perhatiannya kemudian menceritakan sisi lain dari apa yang dipersepsikan penonton pada suatu panti jompo.

Sedangkan film Semasa karya Jessy Sylviani menampilkan kehidupan dua sejoli yang telah berpisah namun berangan-angan kembali menjalin hubungan. Kata-kata “Apakah waktu bisa terulang kembali” pada fiilm tersebut menandakan imajinasi untuk berbalik dari realita yang dihadapi kedua tokoh.

Berdasarkan definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia, fatamorgana berarti gejala optis yang tampak pada permukaan yang panas, yang kelihatan seperti genangan air; 2 hal yang bersifat khayal dan tidak mungkin dicapai. Pada sesi ini penonton seolah ingin diajak melihat sisi-sisi lain dari apa yang terlihat semata, bahwa apa yang selama ini dipersepsikan khalayak mengenai suatu hal belum tentu baku, namun bisa jadi lebih beragam. 

Penulis: Ivan Jonathan

Editor: Christian Karnanda Yang

Foto: Bonaventura Ezra