Upaya Pemerintah dalam Mengatasi Penyakit akibat Rokok

Dari kiri ke kanan: Cheryl Marella selaku moderator acara, dr. Lily Sriwahyuni Sulistyowati, M.M., selaku Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; Dr. dr Agus Dwi Susanto, Sp.P(K)., selaku Ketua Divisi Penyakit Paru Kerja dan Lingkungan, RSUP Persahabatan serta Dwi Martiningsih, Kepala Grup Litbang, BPJS, sedang berbincang dalam talk show pada acara Konferensi Pers “Penyakit yang Diakibatkan Rokok” pada hari Jumat lalu (27/01/2017) di Gedung Utama Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail, Jakarta Pusat
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dan gerakan #SuaraTanpa Rokok menggelar konferensi pers terkait bahaya merokok bagi kesehatan di Gedung Perfilman Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (27/01/16). Melalui kampanye lewat media sosial dan televisi, acara ini mengingatkan masyarakat akan kebiasaan merokok menjadi salah satu penyebab penyakit-penyakit berbahaya.

Acara ini dihadiri oleh sejumlah narasumber, diantaranya Anung Sugihantono (Direktur Jenderal Kemenkes RI), Lily Sriwahyuni Sulistyowati (Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI), Agus Dwi Susanto (Ketua Divisi Penyakit Paru Kerja dan Lingkungan, RSUP Persahabatan), Rachfiansyah (Perwakilan organisasi Vital Strategies), serta Dwi Martiningsih (Kepala Grup Litbang BPJS), dan Cecep Sopandi, penderita penyakit buerger akibat merokok.

Menurut The Tobacco Atlas, salah satu organisasi kesehatan internasional yang berkaitan dengan tembakau, lebih dari 2.677.000 anak – anak dan 53.767.000 orang dewasa adalah perokok. Proporsi ini merupakan yang tertinggi diantara negara berpenghasilan menengah lainnya. Rokok membunuh 217.400 orang Indonesia setiap tahunnya, lebih tinggi dari negara berpenghasilan menengah lainnya.

Adapun penyakit yang disebabkan oleh rokok juga beragam, seperti kanker paru – paru, kanker mulut, penyakit jantung, stroke, bronchitis emphysema, penyakit buerger, dan sebagainya. Berdasarkan data BPJS, penyakit – penyakit ini juga membuat kerugian yang cukup besar di Indonesia.

“Kami mempunyai data ini terkait penyakit – penyakit yang diakibatkan oleh tembakau. Berdasarkan tagihan dari rumah sakit tahun 2015, total 7,57 triliun rupiah. Itu tagihan tahun 2015, tahun 2016 akan lebih tinggi karena jumlah perokok yang meningkat juga,” ujar Dwi Martiningsih.

Untuk itu, pemerintah dan instansi yang terkait perlu mengatasi kebiasaan merokok masyarakat di Indonesia. Salah satunya melalui iklan layanan masyarakat di televisi dan media sosial.

“Kalau televisi, kampanye di televisi pasti efektif. Kita tahu televisi mass media nomor satu pilihan penduduk Indonesia. Untuk penyebaran informasi juga televisi masih nomor satu. Selain itu, penyebaran melalui media sosial akan efektif juga karena tingginya pengguna media sosial di kalangan anak muda,” kata perwakilan organisasi Vital Strategies Rachfiansyah.

Selaras dengan Rachfiansyah, Direktur pencegahan dan penegendalian penyakit tidak menular Kemenkes RI Lily Sriwahyuni menuturkan, Iklan layanan masyarakat juga merupakan bentuk tanggung jawab Kementerian Kesehatan dalam menyehatkan masyarakat Indonesia.

“Pertama tentu Kementerian Kesehatan tugas pokoknya kan memang harus menyehatkan masyarakat. Kita juga bekerja bedasarkan undang – undang dasar kita, perlunya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat setinggi–tingginya,” tegas Lily.

Tanggung jawab tersebut, lanjut Lily, membuat Kemenkes RI terus mengingatkan masyarakat terkait bahaya merokok bagi kesehatan. Isu kenaikan harga rokok menjadi 50 ribu rupiah satu bungkusnya juga sempat menjadi wacana pemerintah dalam menghadapi perosalan tersebut.

“Menurut saya, remaja kita itu makin banyak terus juga karena salah satunya juga yang jadi pengaruh yaitu iklan rokok yang masih terus beredar. Karena survei juga menunjukkan, bahwa anak – anak itu kalau melihat iklan rokok sepertinya tuh terlihat keren, dikelilingi wanita dan sebagainya. Itu mereka mencoba, dan ternyata buktinya nggak bisa berhenti-berhenti,” geramnya.

Reporter : Ivan Jonathan

Editor: Christoforus Ristianto

Fotografer : Roberdy Giobriandi