Elektrifikasi Bus TransJakarta, Solusi atau Masalah Baru Polusi Udara?

Seorang petugas Transjakarta sedang mengecek kondisi bus Zhongtong di Depo PPD F Klender, Jakarta Timur pada Rabu (16/10/19). (Foto: Antara/Reno Esnir)
Share:

BANDUNG, ULTIMAGZ.com  Pada Selasa (05/11/19), Agung Wicaksono selaku Direktur Utama PT Transportasi Jakarta (TransJakarta) mengatakan, tahun depan perusahaannya akan meluncurkan 100 bus listrik sebagai solusi masalah udara di ibu kota. Menurutnya, elektrifikasi bus TransJakarta lebih ramah lingkungan dan mengurangi polusi udara. 

“Saat ini sedang diujicobakan pada tiga bus. Tahun depan ada 100 bus lewat pilot project,” kata Agung dalam Knowledge Management Summit Sekolah Bisnis Manajemen Institut Teknologi Bandung (ITB), seperti yang dikutip oleh Kompas.com.

Namun, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla sempat mengucap pandangan berbeda tentang pengembangan industri akomodasi listrik. Dalam seminar bertajuk Geopolitik Transformasi Energi pada akhir Juli lalu, Kalla mengingatkan adanya masalah yang harus diantisipasi apabila jumlah mobil listrik bertambah.

“Dalam lima tahun katakanlah karena kita penjualan mobil di Indonesia 1,2 juta. Bayangkan sejuta saja, pada malam hari men-charge mobilnya berapa megawatt dibutuhkan,” ujar dia. 

Kalla menambahkan bahwa elektrifikasi kendaraan harus diimbangi juga dengan pengembangan pembangkit listrik dari energi terbarukan seperti angin, air, matahari, dan gelombang laut. 

“Tentu antara lingkungan dan bisnis itu sangat bisa terjadi transformasi energi itu menjadi suatu hal yang sangat penting untuk dicermati dan dilakukan secara bersama-sama. Secara policy, bisnis, kemudian secara bagaimana konsumennya,” ujar Kalla. 

Dengan elektrifikasi ini, bus TransJakarta mengganti penggunaan bahan bakar fosil menjadi energi listrik sehingga emisi gas buang menjadi nol alias tidak ada. Hal ini membuat mobil listrik dianggap menjadi solusi terhadap tingginya pencemaran udara, terutama di Jakarta. Polusi udara yang dihasilkan dari pembuangan gas kendaraan bermotor berbahan bakar fosil membuat kualitas udara jadi buruk.

Akan tetapi, sumber energi listrik yang relatif murah dibandingkan dengan gas adalah batu bara. Dilansir dari Reuters, harga batu bara termal yang berkadar 5.500 Kcal/kg adalah 1 juta rupiah per ton. Sementara itu, harga gas alam cair mencapai 8 juta rupiah per ton. 

Hal ini dapat menyebabkan perubahan paradigma polusi udara yang sebelumnya diakibatkan oleh bahan bakar fosil, sekarang berpindah ke cerobong asap pembangkit listrik yang berbahan bakar batu bara. Walau pun Agung dan Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan bahwa kehadiran mobil listrik dapat menjadi solusi bagi polusi di Indonesia. Namun, mereka masih luput dengan perubahan paradigma polusi udara yang dapat disebabkan oleh batu bara penghasil listrik. 

 

Penulis: Elisabeth Diandra Sandi

Editor: Anindya Wahyu Paramita

Sumber: kompas.com, okezone.com, cnbcindonesia.com, detik.com

Foto: Antara/Reno Esnir