Kenangan Dibalik Motor Anggota IBU

Motor Honda Win Arkief Hutapea (paling kanan) dan New Mega Pro Raja Ali Thalib mengikuti kontes motor 7th Anniversary IBU yang diselenggarakan di Bike Corner, Jakarta Barat Pada Minggu (14/03/2020) di Bike Corner, Kebon Jerus, Jakarta Barat. (Ultimagz/Titus Chrisna Y)
Share:

Di kursi belakang, seorang anak Taman Kanak-kanak (TK) bersandar di punggung ayahnya. Dia tertidur, lelah sehabis pulang sekolah. Motor Honda Win keluaran tahun 1996 itu meninggalkan banyak kenangan di kepalanya. Hingga beberapa tahun berlalu, anak itu menjadi murid Sekolah Menengah Atas (SMA) dan menjadi pengendali motor tua itu.

Saat masih tertidur di punggung ayahnya, Arkief Hutapea pasti tidak membayangkan kelak dia yang sudah berbaju putih abu-abu akan duduk di depan dan membonceng ayahnya. Kini, anak itu sudah mengenyam pendidikan di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), motor itu masih rutin mengantarnya ke mana kakinya ingin berpijak.

Arkief yang aktif dalam organisasi Ikatan Bikers UMN (IBU), memajang motornya untuk ikut serta dalam kontes motor di hari ulang tahun IBU. ‘Motor Sejuta Cerita’ begitulah tertulis dalam deskripsi motor Arkief. Honda Win tua itu ditambahkan macam-macam aksesoris dalam rangka mengikuti kontes IBU.

“Spionnya gue ganti, standart nya juga gue ganti jadi lebih tinggi. Soalnya kan mau ikut kontes gini, kemarin juga gua pasang sticker tapi kurang rapi, sih, soalnya buru-buru,” ujar mahasiswa Strategic Communication angkatan 2018 itu saat menghadiri acara ulang tahun ke-7 IBU di Bike Corner, Jl. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pada Sabtu (14/03/20).

Motor lawas ini pun akan diganti mesinnya oleh Arkief. Pun demikian, dia juga mengatakan bahwa mesin asli dari motor ini tahan lama karena bisa bertahan dari awal produksi sampai hari ini. Arkief mengaku bahwa ini semua berkat perhatiannya terhadap kesehatan motornya.

“Kalau motor ini, gue ganti terus olinya, yang penting itu kalau otomotif jangan sampai turun mesin, nanti keluar uangnya lebih banyak kalau sudah turun mesin,” jelas Arkief.

Berbeda dengan Arkief, modifikasi motor Raja Ali Thalib berawal dari kecelakan. Ketika itu, Raja  yang masih SMA mengendarai motornya seperti biasa. Tiba-tiba mobil menghantamnya dari belakang. Raja tak sadarkan diri dan langsung dilarikan ke rumah sakit.

“Gue enggak bisa inget, soalnya gue enggak sadar, tahu-tahu sudah di rumah sakit saja begitu, soalnya tabrakannya parah. Gue sebulan trauma naik motor,” ujar Raja.

Pemenang kontes Raja Ali Thalib di sebelah motornya yang bernama Rainer. Nama itu diberikan karena setiap motor ini sedang dimodifikasi, hujan selalu turun. (ULTIMAGZ/Titus Chrisna Y)

Pada akhirnya, motor yang rusak saat itu, tidak dia telantarkan. Raja pun berselancar di internet dan menemukan titik terang. Motor New Mega Pro itu disulap, penampakannya menjadi motor balap lawas. Brat Cafe Racer, begitulah konsep motor pemenang kontes motor ulang tahun ketujuh IBU itu.

Namun Raja tidak bisa mengingat kisaran uang yang dia keluarkan untuk menghias motornya. Hal ini pun dikatakannya karena dia tidak memikirkan harga untuk sesuatu yang dia sukai.

“Wah, gue enggak tahu kisaran harganya. Soalnya kalau buat hobi gue enggak ngitungin, keluar saja,” tutup Raja.

 

Penulis: Andrei Wilmar

Editor: Abel Pramudya

Foto: Titus Chrisna Yoga