• About Us
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Advertise & Media Partner
  • Kode Etik
Saturday, February 7, 2026
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
No Result
View All Result
Home Iptek

Fenomena Earworm yang Bikin Lagu Nempel di Kepala Sepanjang Hari

Clarisa Renata by Clarisa Renata
February 4, 2026
in Iptek
Reading Time: 2 mins read
Ilustrasi fenomena earworm. (freepik.com)

Ilustrasi fenomena earworm. (freepik.com)

0
SHARES
15
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Apakah Ultimates pernah mendengar potongan lagu selama tiga detik lalu sisa harimu terasa “dihantui” melodi itu? Fenomena ini disebut earworm. Nama lainnya adalah involuntary musical imagery, yaitu kondisi ketika potongan lagu terus terputar di kepala dan sulit untuk dihentikan. 

Mengutip time.com, earworm merupakan reaksi otak ketika sebuah melodi dianggap cukup sederhana, mudah diingat, dan punya pola repetitif. Otak manusia senang dengan sesuatu yang terasa familiar. Lagu dengan ritme berulang membuat memori jangka pendek terus memutarnya seolah-olah sedang mencari titik penyelesaian. Namun, karena lagu tersebut hanya muncul sebagai potongan, otak tidak pernah mencapai “akhir” dan terus menerus mengulang bagian yang sama.

Baca Juga: Kenali Petrichor, Fenomena Ilmiah yang Menenangkan Hati

Earworm semakin mudah muncul di era digital. Platform seperti TikTok dan Reels Instagram memperkuat fenomena ini karena pengguna mendengar repetisi audio yang sama ratusan kali dari berbagai konten. Lagu-lagu dengan chorus catchy seperti “Manchild”, “Cupid”, atau “Kasih Aba-Aba” menjadi contoh paling jelas. Cukup dengar tiga detik, otak sudah mencatat pola ritmenya.

Faktor emosional juga memengaruhi kemunculan earworm. Lagu yang pernah membuat pendengarnya merasa senang, sedih, atau nostalgia akan lebih cepat menempel, dilansir dari health.harvard.edu. Seseorang yang sedang stres atau mengerjakan pekerjaan monoton cenderung lebih mudah terdampak karena otak mencari stimulasi ringan untuk mengimbangi suasana. Jadilah potongan lagu muncul tanpa diminta.

Baca Juga: Kenali Impulsive Buying dan Doom Spending, Fenomena Konsumtif dalam Kehidupan Modern

Meski sering dianggap mengganggu, earworm sebenarnya fenomena yang normal dan tidak berbahaya. Akan tetapi, ada beberapa cara untuk menghilangkannya, seperti mendengarkan lagu tersebut secara penuh, beralih ke aktivitas yang butuh fokus, atau mengganti lagu dengan melodi lain yang lebih menenangkan, dilansir dari timesofindia.indiatimes.com.

Earworm menjadi bukti bahwa musik memiliki kekuatan besar dalam memengaruhi otak manusia. Di tengah banjir konten digital yang serba cepat, fenomena ini semakin terasa sehari-hari, terutama bagi generasi yang tumbuh bersama musik pop dan media sosial.

 

Penulis: Clarisa Renata

Editor: Kezia Laurencia

Foto: freepik.com

Sumber: time.com, health.harvard.edu, timesofindia.indiatimes.com

Tags: earwormmusikpengulangan
Clarisa Renata

Clarisa Renata

Related Posts

Ilustrasi bubuk kunyit. (Freepik/Jigsawstocker)
Iptek

Kunyit: Bumbu Dapur yang Menyimpan Banyak Rahasia Kesehatan

February 4, 2026
Teh
Iptek

Hojicha vs Matcha: Dua Teh Hijau dari Negeri Sakura, Apa Perbedaannya?

February 4, 2026
Bekel
Hiburan

Kenali Bekel dan Kawan-Kawannya: Mainan Masa Kecil yang Mendunia

February 3, 2026
Next Post
Teh

Hojicha vs Matcha: Dua Teh Hijau dari Negeri Sakura, Apa Perbedaannya?

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seventeen − sixteen =

Popular News

  • wawancara

    Bagaimana Cara Menjawab Pertanyaan ‘Klise’ Wawancara?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Risa Saraswati Ceritakan Kisah Pilu 5 Sahabat Tak Kasat Matanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kisah Ivanna Van Dijk Sosok Dari Film ‘Danur 2 : Maddah’

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gading Festival: Pusat Kuliner dan Rekreasi oleh Sedayu City

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Merasa Depresi? Coba Cek 4 Organisasi Kesehatan Mental Ini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Pages

  • About Us
  • Advertise & Media Partner
  • Artikel Terbar-U
  • Beranda
  • Kode Etik
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Ultimagz Foto
  • Disabilitas

Kategori

About Us

Ultimagz merupakan sebuah majalah kampus independen yang berlokasi di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Ultimagz pertama kali terbit pada tahun 2007. Saat itu, keluarga Ultimagz generasi pertama berhasil menerbitkan sebuah majalah yang bertujuan membantu mempromosikan kampus. Ultimagz saat itu juga menjadi wadah pelatihan menulis bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) UMN dan non-FIKOM.

© Ultimagz 2021

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto

© Ultimagz 2021