• About Us
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Advertise & Media Partner
  • Kode Etik
Saturday, February 7, 2026
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
No Result
View All Result
Home Lifestyle

Black Friday: Fenomena Belanja yang Bermula dari Kekacauan

Jesslyn Gunawan Wijaya by Jesslyn Gunawan Wijaya
February 2, 2026
in Lifestyle
Reading Time: 3 mins read
Black Friday, istilah yang identik dengan kegiatan belanja di era sekarang. (freepik.com)

Black Friday, istilah yang identik dengan kegiatan belanja di era sekarang. (freepik.com)

0
SHARES
13
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Bagi Ultimates yang senang berbelanja, istilah Black Friday mungkin sudah tak asing lagi. Istilah ini merujuk pada kegiatan belanja besar-besaran yang berasal dari Amerika Serikat (AS) dan mulai berlangsung setiap Jumat minggu keempat November. 

Black Friday merupakan hari setelah perayaan atas kelimpahan hasil panen atau Thanksgiving yang dirayakan di AS. Sebelumnya, istilah Black Friday digunakan oleh para polisi di Philadelphia, AS pada awal 1960-an ketika terjadi kerumunan yang membludak setelah perayaan Thanksgiving. 

Baca juga: Pintar Manajemen Waktu dan Hidup: Strategi Ringan untuk Rutinitas Padat

Kemudian, kerumunan tersebut berujung kekacauan, mulai dari para pembeli lokal dan turis yang mengincar promo atau berlibur hingga terjadinya kriminalitas, dikutip dari detik.com. Hal itu membuat polisi setempat merasa kewalahan dalam menangani situasinya. 

Melansir kompas.com, istilah Black Friday sempat dinilai merugikan para penjual. Maka dari itu, pada 1961, istilah Black Friday sempat diganti menjadi Big Friday agar konotasinya menjadi positif. Akan tetapi, upaya tersebut tidak berhasil karena istilah Black Friday sudah sangat melekat, dikutip dari idntimes.com. 

Akhirnya, para penjual menerima istilah Black Friday. Namun, mereka kembali mencoba mengubah narasinya menjadi hari belanja besar-besaran dan memperoleh keuntungan setelah perayaan Thanksgiving.

Konsep “black” pada Black Friday yang awalnya dianggap berkaitan dengan sesuatu yang kelam diubah maknanya menjadi “laba” atau “keuntungan”. Melansir idntimes.com, konsep ini dihubungkan dengan sistem pencatatan keuangan zaman dahulu, yang mana kerugian dicatat dengan tinta merah, sedangkan keuntungan menggunakan tinta hitam.

Namun, jauh sebelum itu, terdapat cerita lain yang mengisahkan terciptanya istilah Black Friday. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan situasi krisis ekonomi di AS. Mengutip antaranews.com, pada 24 September 1869, dua investor Jay Gould dan Jim Fisk membeli emas dalam jumlah besar dan meninggikan harga jualnya sehingga membuat harga pasaran anjlok.

Baca juga: Kenali Impulsive Buying dan Doom Spending, Fenomena Konsumtif dalam Kehidupan Modern

Meskipun istilah ini awalnya berasal dari AS, tetapi sudah ada beberapa negara yang mengadaptasi tradisi belanja ini, termasuk Indonesia. Berbagai penawaran spesial dan diskon lainnya yang ditawarkan pada Black Friday tersedia di gerai langsung maupun online store.

Melansir kompas.com, Black Friday di 2025 jatuh pada 28 November lalu. Secara tidak langsung, adanya Black Friday juga menandakan dimulainya musim belanja menjelang Natal. 

 

 

 

Penulis: Jesslyn Gunawan Wijaya

Editor: Jessica Kannitha

Foto: freepik.com

Sumber: detik.com, kompas.com, idntimes.com, antaranews.com

Tags: 2025Amerika SerikatBelanjaBlack Fridaynataloffline storeonline shoppembelipenjualsaleShoppingThanksgivingtoko
Jesslyn Gunawan Wijaya

Jesslyn Gunawan Wijaya

Related Posts

kantuk
Lifestyle

Coffee Nap: Trik Jitu Atasi Kantuk

February 5, 2026
Foto tangan meraup biji kopi
Lifestyle

Bukan Sekadar Dipanggang, Ternyata Biji Kopi Banyak Cara Prosesnya!

February 2, 2026
manajemen waktu
Lifestyle

Pintar Manajemen Waktu dan Hidup: Strategi Ringan untuk Rutinitas Padat

January 7, 2026
Next Post
12 Angry Men: Ketika Satu Suara Mengubah Segalanya

12 Angry Men: Ketika Satu Suara Mengubah Segalanya

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

15 + 2 =

Popular News

  • wawancara

    Bagaimana Cara Menjawab Pertanyaan ‘Klise’ Wawancara?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Risa Saraswati Ceritakan Kisah Pilu 5 Sahabat Tak Kasat Matanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kisah Ivanna Van Dijk Sosok Dari Film ‘Danur 2 : Maddah’

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gading Festival: Pusat Kuliner dan Rekreasi oleh Sedayu City

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Merasa Depresi? Coba Cek 4 Organisasi Kesehatan Mental Ini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Pages

  • About Us
  • Advertise & Media Partner
  • Artikel Terbar-U
  • Beranda
  • Kode Etik
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Ultimagz Foto
  • Disabilitas

Kategori

About Us

Ultimagz merupakan sebuah majalah kampus independen yang berlokasi di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Ultimagz pertama kali terbit pada tahun 2007. Saat itu, keluarga Ultimagz generasi pertama berhasil menerbitkan sebuah majalah yang bertujuan membantu mempromosikan kampus. Ultimagz saat itu juga menjadi wadah pelatihan menulis bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) UMN dan non-FIKOM.

© Ultimagz 2021

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto

© Ultimagz 2021