SERPONG, ULTIMAGZ.com – Roehana Koeddoes merupakan seorang perempuan yang tumbuh di desa sunyi bernama Koto Gadang, tetapi pemikirannya sudah berkembang melampaui perempuan pada zamannya. Di tengah aturan sosial Minangkabau yang nyaris tak memberikan ruang bagi perempuan untuk belajar, Roehana menemukan kebebasan dalam selembar kertas dan pena. Bermula dari rasa ingin tahu sederhana, perlahan berubah menjadi dorongan kuat untuk memahami dunia.
Roehana Koeddoes lahir di Sumatera Barat dengan nama Siti Rohana pada 20 Desember 1884. Ia adalah anak dari seorang Kepala Jaksa di Pemerintahan Hindia Belanda, Moehammad Rasjad Maharadja Sutan. Sejak dini, Roehana tumbuh di lingkungan yang gemar membaca. Ia senang membaca buku, majalah, ataupun surat kabar milik ayahnya, dilansir dari news.detik.com.
Baca juga: Simone De Beauvoir, Jejak Pemikiran Feminis Modern
Saat berusia enam tahun, Roehana mulai belajar membaca, menulis, dan menghitung ketika berada di Alahan Panjang. Semua itu diajarkan oleh Adiesa yang merupakan istri dari Lebi Jaro Nan Sutan, Jaksa Alahan Panjang. Pasangan suami istri tersebut telah menganggap Roehana Koeddoes sebagai anak kandung mereka.
Di usia tujuh tahun, ia bertekad kuat untuk mengembangkan kesenangannya pada bidang pendidikan dan jurnalistik. Oleh karena itu, Roehana sering membaca dan membagikan berita lokal dengan teman-teman sebayanya.
Pada 1911, Roehana Koeddoes membangun sekolah perempuan pertama di Indonesia bernama Kerajinan Amai Setia (KAS). Setelah itu, Roehana pindah ke kota Bukittinggi dan mengawali kariernya sebagai salah satu jurnalis perempuan pertama di Indonesia. Kegigihannya dalam menerbitkan surat kabar perempuan pertama bernama Soenting Melajoe menjadi sebuah inspirasi yang mendorong perkembangan dunia jurnalistik, dilansir dari cnnindonesia.com.
Melansir kompas.com, Roehana Koeddoes selalu berupaya untuk mewakilkan suara dan nasib kaum perempuan. Ia juga berusaha mengajak beberapa pemimpin surat kabar untuk berkoresponden, salah satunya adalah Pemimpin Redaksi Utusan Melayu Soetan Maharadja.
Kerja samanya dengan Soetan Maharadja menjadi awal mula terciptanya surat kabar Soenting Melajoe yang mempunyai arti perempuan melayu. Pada 1912, Roehana Koeddoes menjadi pemimpin redaksi dan membuat beberapa surat kabar lain seperti Perempoean Bergerak di Medan.
Baca juga: Svapna Gayatri 2025: “Duhai Nona” Suarakan Emansipasi Wanita
Perjalanan Roehana Koeddoes membuktikan bahwa perubahan besar dapat lahir dari keberanian untuk menantang batas yang dianggap wajar. Bermula di Koto Gadang, ia membuka pintu bagi perempuan untuk belajar, bekerja, dan bersuara.
Semua itu Roehana Koeddoes upayakan melalui penyediaan sekolah kerajinan, tulisan-tulisan kritis, dan surat kabar perempuan pertama di Indonesia. Ia mewariskan sebuah sudut pandang bahwa literasi, pendidikan, dan keberanian menyuarakan keadilan adalah dasar untuk memajukan perempuan.
Penulis: Jemima Anasya R.
Editor: Jessie Valencia
Foto: kovermagz.com.
Sumber: news.detik.com, cnnindonesia.com, kompas.com.





