SERPONG, ULTIMAGZ.com – Salem Witch Trials atau persidangan penyihir Salem di Massachusetts pada 1692 menjadi salah satu kisah paling kelam dalam sejarah Amerika. Dari komunitas religius yang tenang berubah menjadi panggung ketakutan massal. Dalam suasana penuh kecemasan dan kecurigaan, warga yang sebelumnya hidup berdampingan seketika saling menuding sebagai pengguna sihir.
Di balik histeria ini, ada kisah manusia yang harus menghadapi tuduhan tanpa bukti, pengadilan yang timpang, dan penentuan nasib oleh ketakutan kolektif. Kejadian ini bukan hanya peristiwa sejarah yang tragis, melainkan juga cerminan bagaimana rasa takut dapat menghancurkan sebuah komunitas dari dalam.
Baca juga: Not All Men: Antara Pembelaan Diri atau Pengabaian Realita?
Di antara awal 1692 dan peretengahan 1693, 20 orang dieksekusi dan lebih dari 200 orang (kebanyakan perempuan) dituduh sebagai praktisi sihir. Faktor utama terjadinya Salem Witch Trials adalah xenofobia atau ketakutan terhadap seseorang yang berbeda dari diri orang tersebut.
Pada saat itu, ekstremisme agama banyak mengajarkan bahwa penyihir merupakan orang yang diberikan kekuatan oleh iblis. Sebagai bayaran untuk kekuatan tersebut, penyihir akan menyakiti orang lain, dilansir dari smithsonianmag.com.
Melansir nationalgeographic.com, perempuan yang membuat kesal anggota komunitas religius biasanya dituduh sebagai seorang penyihir. Secara umum, perempuan yang dituduh biasanya berasal dari kalangan tak berdaya seperti golongan miskin dan orang kulit berwarna.
Maraknya perburuan penyihir ini tidak hanya terjadi di Salem, tetapi juga di Eropa mulai dari abad ke-15 hingga ke-18. Oleh karena itu, kekhawatiran tersebut mulai tersebar beriringan dengan kerusuhan sosial dan perubahan agama di Salem sehingga rentan terhadap tuduhan praktik sihir.
Setelah meredanya demam penuduhan penyihir, terjadi sebuah tindakan pertobatan oleh tiap-tiap individu dan institusional. Pertobatan tersebut dilakukan oleh pihak-pihak yang terlibat. Pada Januari 1697, Pengadilan Umum Massachusetts karena pengakuan kesalahannya. Lalu pada 1702, persidangan penyihir Salem dinyatakan tidak sah dan Persemakmuran Massachusetts membebaskan 22 orang dari 33 yang terkena tuduhan tersebut di 1711, dilansir dari britannica.com.
Baca juga: Simone De Beauvoir, Jejak Pemikiran Feminis Modern
Dapat disimpulkan bahwa tragedi Salem Witch Trials meninggalkan jejak yang jauh melampaui abad ke-17. Sebuah peringatan abadi tentang bagaimana kepanikan, prasangka, dan hilangnya akal sehat dapat merugikan dan menghancurkan kehidupan. Dari histeria di antara sekelompok orang hingga beralih ke pengadilan yang dipenuhi kesaksian tak masuk akal.
Semua faktor tersebut menunjukkan rapuhnya masyarakat ketika lebih mengandalkan rasa takut daripada fakta. Salem Witch Trials mengajarkan bahwa tragedi dapat lahir dari ketidakmampuan masyarakat untuk berpikir kritis dan menjaga empati. Pelajaran yang relevansinya tak pudar sampai sekarang.
Penulis: Jemima Anasya R.
Editor: Jessie Valencia
Foto: amazon.com.
Sumber: smithsonianmag.com, nationalgeographic.com, britannica.com.




