SERPONG, ULTIMAGZ.com– Belakangan ini, perusahaan-perusahaan model Artificial Intelligence (AI) telah didominasi oleh negara barat, khususnya Amerika Serikat (AS). Namun, kali ini muncul saingan ketat dari Cina bernama Kimi K2 Thinking, rilis pada 6 November 2025 lalu.
Kimi K2 Thinking merupakan versi terbaru dari Start up Moonshot AI yang didirikan oleh Yang Zhilin pada 2023. Model ini merupakan tambahan dari model Kimi K2 Juli 2025 lalu, dilansir cnbn.com. Seperti Large Language Model (LLM) lainnya, Kimi K2 Thinking memiliki kemampuan menjawab pertanyaan, menyelesaikan tugas berbasis teks, serta menjadi alternatif AI gratis yang dapat diakses oleh siapa saja.
Baca Juga: Transformasi Teknologi melalui ChatGPT
Tidak hanya itu, keunggulan utama Kimi K2 justru terletak pada performanya yang melampaui beberapa model AI besar asal Barat dalam berbagai uji coba. Dengan mengusung arsitektur Mixture of Experts (MoE), Kimi K2 memiliki total 1 triliun parameter dengan 32 miliar parameter aktif, menjadikannya salah satu model AI paling canggih yang pernah dikembangkan.
Baca Juga: AI Art Generator Marak Digunakan, Bagaimana Nasib Seniman?
Melansir teknologi.id, dalam pengujian SWE-Bench untuk kemampuan pemrograman perangkat lunak, Kimi K2 mencatat akurasi 65,8%, mengungguli model milik OpenAI yang hanya mencapai 54,6% dan DeepSeek dengan 38,8%. Sementara itu, dalam pengujian LiveCodeBench, model ini memperoleh akurasi 53,7%, lebih tinggi dibanding DeepSeek maupun GPT-4.1. Keunggulan tersebut semakin diperkuat lewat uji Math-500, di mana Kimi K2 mencapai skor akurasi 97,4%, menunjukkan kemampuannya dalam memecahkan soal matematika tingkat lanjut dengan presisi luar biasa.
Selain itu, Kimi K2 Thinking bersifat open source sehingga siapa pun dapat mengunduh dan melatihnya secara mandiri. Langkah ini menjadi strategi unik dari Cina dalam menghadapi dominasi AI Barat. Melansir economist.com, Cina kini memimpin dalam pengembangan open-weight model dan secara perlahan mulai menggoyang posisi Amerika Serikat di industri AI global. Pendekatan ini menunjukkan bahwa inovasi terbuka dan kolaboratif dapat menjadi kekuatan baru dalam dunia teknologi, sekaligus menandai perubahan besar dalam peta persaingan kecerdasan buatan.
Penulis: Belva Putri Paramitha
Editor: Kezia Laurencia
Foto: smythos.com
Sumber:cnbn.com, teknologi.id, economist.com.





