SERPONG, ULTIMAGZ.com — Serial Young Sherlock tengah mencuri perhatian publik sejak dirilis di platform Prime Video pada Rabu (04/03/2026). Disutradarai oleh Guy Ritchie, serial delapan episode ini mengangkat kisah masa muda Sherlock Holmes di Inggris, tetapi dengan pendekatan yang tidak biasa. Alih-alih menjadi musuh bebuyutan, Holmes justru bersahabat dengan James Moriarty.
Bukan menghadirkan konflik klasik antara sang detektif jenius dengan si kriminal, Young Sherlock justru mengeksplorasi fase awal kehidupan Sherlock Holmes (Hero Fiennes Tiffin) sebagai remaja yang masih mencari jati diri. Dalam serial ini, Holmes masih jauh dari citra detektif dingin dan arogan yang selama ini kita kenal. Melansir dari variety.com, ia baru keluar dari penjara dan diutus oleh kakaknya, Mycroft Holmes (Max Irons), untuk menjadi seorang pesuruh di Universitas Oxford.
Baca juga: Enola Holmes: Sosok Adik Pemberani Sherlock dan Mycroft
Di sinilah Holmes bertemu dengan James Moriarty (Dónal Finn), seorang mahasiswa dengan bantuan beasiswa yang sama-sama merasa asing di lingkungannya. Tidak seperti karya Sir Arthur Conan Doyle yang memosisikan Moriarty sebagai antagonis, James dan Sherlock menjadi rekan sepikiran yang menghadapi berbagai misteri bersama.
Kerja sama ini dimulai ketika mereka dituduh mencuri sebuah artefak berharga milik putri asal China, Shou’an (Zine Tseng), yang sedang melakukan studi di Inggris. Alih-alih menyerah, keduanya memilih untuk menyelidiki kasus itu. Dan tanpa diduga, penyelidikan itu membawa mereka ke kasus yang jauh lebih besar, yakni sebuah pembunuhan yang menyentuh lingkaran pemerintahan tertinggi Inggris.
Seiring berjalannya episode, perbedaan moral keduanya perlahan muncul ke permukaan, menggarisbawahi ideologi bahwa dua orang bisa berdiri di sisi yang sama sekaligus membawa nilai yang tidak pernah benar-benar selaras, dilansir dari theguardian.com. Hal ini menunjukkan bahwa serial ini tidak hanya mengandalkan misteri, tetapi juga pengembangan karakter yang lebih emosional dan relevan bagi para generasi muda.
Dari sisi produksi, para kreator serial ini sengaja tidak mengacu pada karya orisinalnya karena ingin Young Sherlock berdiri sebagai karyanya sendiri, dengan kebebasan yang datang dari fakta bahwa ini adalah kisah asal-usul berbagai karakter sekaligus, dilansir dari deadline.com.
Sang sutradara, Guy Ritchie tetap mempertahankan gaya khasnya yang bertempo cepat, humor tajam, dan visual dinamis yang membawa penonton dari Oxford hingga pasar-pasar di Konstantinopel, dilansir dari variety.com.
Baca juga: Jay Kelly: Mengintip ke Dalam Hidup di Depan Kamera
Pemilihan Hero Fiennes Tiffin sebagai Sherlock Holmes pun terbilang tepat sasaran. Ia berhasil menghadirkan versi Holmes yang labil dan lebih impulsif, membuat karakternya terasa segar dan mudah diikuti, dilansir dari variety.com.
Young Sherlock menawarkan sudut pandang yang jarang hadir dalam dunia Sherlock Holmes: bagaimana dua orang cerdas bisa berada di sisi yang sama sebelum akhirnya berseberangan. Dengan fondasi cerita yang kuat, kehadiran musim kedua Young Sherlock sudah sangat dinantikan.
Penulis: Aurelia Lisbeth
Editor: Kezia Laurencia
Foto: IMBd
Sumber: deadline.com, theguardian.com, variety.com





