SERPONG, ULTIMAGZ.com – Phoolan Devi bukanlah nama yang sejak awal langsung disegani dunia. Sebelum dijuluki “Bandit Queen”, ia hanyalah seorang anak perempuan biasa dari sebuah desa miskin di India. Namun, perjalanan hidup Phoolan membawanya menjadi sosok bandit bersenjata yang paling ditakuti sekaligus paling dicintai kalangan marginal.
Di India, nasib seorang perempuan kerap sudah ditentukan sejak lahir lewat hierarki kasta dan status sosial keluarganya. Namun, garis takdir itu berhasil Phoolan patahkan untuk menolak hidup dalam bayang-bayang penindasan.
Baca juga: Taliban dan Hilangnya Hak Perempuan di Afghanistan
Phoolan Devi lahir pada 10 Agustus 1963 di sebuah desa kecil di Uttar Pradesh, India, dan dibesarkan dalam kemiskinan yang ekstrem. Ia tumbuh di komunitas Mallah, sub-kasta rendah yang secara turun-temurun bekerja sebagai nelayan dan buruh kasar. Ia dan keluarganya terus-menerus terhimpit ketimpangan sosial serta penindasan dari kasta-kasta yang lebih tinggi, dilansir dari maktoobmedia.com.
Belum genap berusia sepuluh tahun, Phoolan sudah dinikahkan dengan pria yang usianya jauh lebih tua. Dari situlah kekerasan domestik, pelecehan, dan penindasan fisik mulai terjadi secara berulang. Ironisnya, saat ia mencoba melawan dan menuntut haknya, sistem hukum dan struktur sosial setempat justru menambah beban penderitaannya. Ia dipenjara secara tidak adil berkali-kali, bahkan mengalami kekerasan fisik dan seksual dari aparat maupun kelompok kasta atas.
Terhimpit oleh sistem yang terus meminggirkannya, Phoolan menemukan jalan keluar di Lembah Chambal, kawasan yang dikenal sebagai basis para pemberontak bersenjata. Di sana ia bertransformasi dari korban kekerasan menjadi salah satu pemimpin kelompok bersenjata yang paling disegani. Media internasional pun menjulukinya “Bandit Queen”. Namun, label tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan sosok Phoolan yang seringkali dipandang masyarakat. Bagi kelompok masyarakat dari kasta bawah, kisah hidupnya menjadi simbol keberanian melawan dominasi hierarki sosial yang menindas, dilansir dari theprint.ampproject.org.
Setelah bertahun-tahun menjadi buronan paling dicari di India, Phoolan Devi memilih menyerahkan diri pada 1983 di Madhya Pradesh. Ia bernegosiasi agar terhindar dari hukuman mati dan memastikan keadilan bagi anggota kelompoknya. Keputusan ini mengakhiri masa perlawanannya di Chambal, sekaligus membawanya pada 11 tahun masa tahanan tanpa persidangan penuh. Phoolan Devi dibebaskan pada 1994, lalu terjun ke dunia politik melalui partai Samajwadi, salah satu partai yang dikenal menaungi suara kasta bawah.
Baca juga: Zohran Mamdani: The Mayor of Many Firsts
Dari situ, Phoolan berhasil memenangkan kursi Lok Sabha dari Mirzapur pada 1996 dan terpilih kembali pada 1999. Dari buronan paling dicari di Chambal menjadi legislator di ibu kota, ia memakai posisinya untuk membela masyarakat miskin dan perempuan tertindas. Label “Bandit Queen” terus melekat padanya bahkan setelah ia menjadi anggota parlemen, terutama lewat film biopic Bandit Queen (1994) karya Shekhar Kapur, dilansir dari news.detik.com. Walaupun Phoolan sebenarnya menolak keras cara film itu menampilkan kekerasan seksual yang ia alami tanpa izinnya.
Phoolan Devi tewas ditembak pada 25 Juli 2001 di depan rumah dinasnya di New Delhi, tak lama setelah rapat parlemen, di usia 38 tahun. Sher Singh Rana mengaku sebagai pelaku, menyebut aksinya sebagai balas dendam atas pembantaian Behmai 1981. Kematiannya menjadi pengingat bahwa konflik kasta dan diskriminasi gender masih menjadi realitas sosial yang nyata. Di balik segala label itu, Phoolan Devi menjadi salah satu sosok perempuan yang berani untuk menolak tunduk pada takdir yang dipaksakan hierarki kasta dan patriarki.
Penulis: Jemima Anasya R.
Editor: Kezia Laurencia
Foto: roadsandkingdom.com
Sumber: maktoobmedia.com, theprint.ampproject.org, news.detik.com.




