• About Us
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Advertise & Media Partner
  • Kode Etik
Monday, October 5, 2026
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
No Result
View All Result
Home Hiburan

Phoolan Devi, “Bandit Queen” yang Menolak Tunduk

Jemima Anasya Rachman by Jemima Anasya Rachman
October 5, 2026
in Hiburan, Iptek, Perempuan
Reading Time: 3 mins read
Phoolan

Potret Phoolan Devi, sang “Bandit Queen”. (roadsandkingdom.com

0
SHARES
13
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Phoolan Devi bukanlah nama yang sejak awal langsung disegani dunia. Sebelum dijuluki “Bandit Queen”, ia hanyalah seorang anak perempuan biasa dari sebuah desa miskin di India. Namun, perjalanan hidup Phoolan membawanya menjadi sosok bandit bersenjata yang paling ditakuti sekaligus paling dicintai kalangan marginal. 

Di India, nasib seorang perempuan kerap sudah ditentukan sejak lahir lewat hierarki kasta dan status sosial keluarganya. Namun, garis takdir itu berhasil Phoolan patahkan untuk menolak hidup dalam bayang-bayang penindasan. 

Baca juga: Taliban dan Hilangnya Hak Perempuan di Afghanistan

Phoolan Devi lahir pada 10 Agustus 1963 di sebuah desa kecil di Uttar Pradesh, India, dan dibesarkan dalam kemiskinan yang ekstrem. Ia tumbuh di komunitas Mallah, sub-kasta rendah yang secara turun-temurun bekerja sebagai nelayan dan buruh kasar. Ia dan keluarganya terus-menerus terhimpit ketimpangan sosial serta penindasan dari kasta-kasta yang lebih tinggi, dilansir dari maktoobmedia.com.

Belum genap berusia sepuluh tahun, Phoolan sudah dinikahkan dengan pria yang usianya jauh lebih tua. Dari situlah kekerasan domestik, pelecehan, dan penindasan fisik mulai terjadi secara berulang. Ironisnya, saat ia mencoba melawan dan menuntut haknya, sistem hukum dan struktur sosial setempat justru menambah beban penderitaannya. Ia dipenjara secara tidak adil berkali-kali, bahkan mengalami kekerasan fisik dan seksual dari aparat maupun kelompok kasta atas. 

Terhimpit oleh sistem yang terus meminggirkannya, Phoolan menemukan jalan keluar di Lembah Chambal, kawasan yang dikenal sebagai basis para pemberontak bersenjata. Di sana ia bertransformasi dari korban kekerasan menjadi salah satu pemimpin kelompok bersenjata yang paling disegani. Media internasional pun menjulukinya “Bandit Queen”. Namun, label tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan sosok Phoolan yang seringkali dipandang masyarakat. Bagi kelompok masyarakat dari kasta bawah, kisah hidupnya menjadi simbol keberanian melawan dominasi hierarki sosial yang menindas, dilansir dari theprint.ampproject.org. 

Setelah bertahun-tahun menjadi buronan paling dicari di India, Phoolan Devi memilih menyerahkan diri pada 1983 di Madhya Pradesh. Ia bernegosiasi agar terhindar dari hukuman mati dan memastikan keadilan bagi anggota kelompoknya. Keputusan ini mengakhiri masa perlawanannya di Chambal, sekaligus membawanya pada 11 tahun masa tahanan tanpa persidangan penuh. Phoolan Devi dibebaskan pada 1994, lalu terjun ke dunia politik melalui partai Samajwadi, salah satu partai yang dikenal menaungi suara kasta bawah. 

Baca juga: Zohran Mamdani: The Mayor of Many Firsts

Dari situ, Phoolan berhasil memenangkan kursi Lok Sabha dari Mirzapur pada 1996 dan terpilih kembali pada 1999. Dari buronan paling dicari di Chambal menjadi legislator di ibu kota, ia memakai posisinya untuk membela masyarakat miskin dan perempuan tertindas. Label “Bandit Queen” terus melekat padanya bahkan setelah ia menjadi anggota parlemen, terutama lewat film biopic Bandit Queen (1994) karya Shekhar Kapur, dilansir dari news.detik.com. Walaupun Phoolan sebenarnya menolak keras cara film itu menampilkan kekerasan seksual yang ia alami tanpa izinnya.

Phoolan Devi tewas ditembak pada 25 Juli 2001 di depan rumah dinasnya di New Delhi, tak lama setelah rapat parlemen, di usia 38 tahun. Sher Singh Rana mengaku sebagai pelaku, menyebut aksinya sebagai balas dendam atas pembantaian Behmai 1981. Kematiannya menjadi pengingat bahwa konflik kasta dan diskriminasi gender masih menjadi realitas sosial yang nyata. Di balik segala label itu, Phoolan Devi menjadi salah satu sosok perempuan yang berani untuk menolak tunduk pada takdir yang dipaksakan hierarki kasta dan patriarki. 

 

Penulis: Jemima Anasya R.

Editor: Kezia Laurencia

Foto: roadsandkingdom.com

Sumber: maktoobmedia.com, theprint.ampproject.org, news.detik.com.

Tags: Aktivis Perempuananti kekerasanFeminisfeminismfeminismefeministgerak perempuangerakan perempuanhak perempuanhistory of feminismIndiakeadilankeadilan genderkekerasankekerasan pada perempuankekerasan seksual
Jemima Anasya Rachman

Jemima Anasya Rachman

Related Posts

Poster film Avengers: Endgame Encore. (marvel.com)
Film

Bisakah Marvel Menjaga Loki Sebaik Loki Menjaga Multiverse? Menanti Nasib Sang Dewa Cerita di Doomsday

October 3, 2026
Austin Abrams sebagai Bryan di film Resident Evil. (imdb.com)
Film

Zach Cregger Mengembalikan Racoon City: Resident Evil dalam Sudut Pandang Baru

October 2, 2026
Penampil-penampil Synchronize Festival 2026 pada jumpa pers di HW Live House Kemang, Jakarta, Rabu (30/09/2026). (ULTIMAGZ/Febrian Dwianto).
Event

Synchronize Festival 2026: Tahun Kesebelas dengan Musim Baru dan Semangat Sama

October 1, 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × five =

Popular News

  • wawancara

    Bagaimana Cara Menjawab Pertanyaan ‘Klise’ Wawancara?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Risa Saraswati Ceritakan Kisah Pilu 5 Sahabat Tak Kasat Matanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kisah Ivanna Van Dijk Sosok Dari Film ‘Danur 2 : Maddah’

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gading Festival: Pusat Kuliner dan Rekreasi oleh Sedayu City

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Merasa Depresi? Coba Cek 4 Organisasi Kesehatan Mental Ini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Pages

  • About Us
  • Advertise & Media Partner
  • Artikel Terbar-U
  • Beranda
  • Kode Etik
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Ultimagz Foto
  • Disabilitas

Kategori

About Us

Ultimagz merupakan sebuah majalah kampus independen yang berlokasi di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Ultimagz pertama kali terbit pada tahun 2007. Saat itu, keluarga Ultimagz generasi pertama berhasil menerbitkan sebuah majalah yang bertujuan membantu mempromosikan kampus. Ultimagz saat itu juga menjadi wadah pelatihan menulis bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) UMN dan non-FIKOM.

© Ultimagz 2021

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto

© Ultimagz 2021