JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Terbukanya peluang bisnis di Indonesia sejak diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) menjadi tantangan tersendiri bagi bisnis lokal. Apalagi untuk membangun bisnis baru dan local brand, yang tak hanya bersaing dengan bisnis dalam negeri, namun juga dengan brand internasional. Namun, konsep yang inovatif merupakan kunci penting dalam membangun bisnis merek lokal yang sukses, bahkan mendunia.
Pada acara Pop Up Market di Lotte Shopping Avenue, Minggu (13/3), satu merek lokal yang berhasil menarik perhatian masyarakat adalah MATOA. MATOA merupakan merek jam tangan yang terbuat dari kayu. Berawal dari tweet Dino Patti Djalal yang saat itu menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, founder MATOA Lucky Danna Aria tertantang untuk menciptakan jam tangan kayu dari Indonesia.
“Pak Dino sempet nge-tweet, pakai jam kayu merek asing yang harganya lumayan mahal. Dia menantang, anak bangsa ada nggak yang bisa bikin kayak gini,” jelas Aldi selaku marketing MATOA.

Sejak melakukan riset di tahun 2011, MATOA kini menjadi merek jam tangan kayu pertama asal Indonesia. Dengan menggunakan bahan kayu maple Kanada dan kayu bone Makassar, MATOA dibuat untuk para masyarakat urban yang ingin memiliki jam tangan yang simpel dengan analog klasik.
Unsur Lokal Sebagai Konsep
Di tengah persaingan dengan merek luar, MATOA membuat konsep dengan memanfaatkan nama-nama pulau di Indonesia untuk produknya. Nama MATOA sendiri berasal dari nama kayu asal Papua. Dengan harga Rp980.000 hingga Rp1.100.00, MATOA kini telah diekspor sampai ke Jepang, Hongkong, Beijing, bahkan beberapa negara di benua Eropa dan Amerika.
“Pesen dari founder kita, Lucky, kalau mau unggul itu carilah market yang belum ada. Gimana caranya angkat unsur lokalnya banget. Persaingan di dunia fashion sekarang semua sikut-sikutan. Makanya, cobalah menginovasi sesuatu yang beda dari yang lain,” kata Aldi.
Tak hanya MATOA, clothing line Footurama juga menjadi merek lokal yang ada di Pop Up Market, dengan unsur lokal sebagai konsepnya. Dengan tema City Series, Footurama menghadirkan kaus dengan tulisan nama-nama jalan di Indonesia, seperti Glodok, Blok M, Cikini, hingga Seminyak dan Dago.
“Kita pengen bikin nama jalan yang lebih ada meaning dan culture-nya. Untuk nama jalan Senayan itu kita kolaborasi sama skaters tahun 90an,” jelas Mogi selaku supervisor Footurama.

Untuk dapat sukses di bisnis clothing, Footurama menganggap bahwa hal utama yang harus dikedepankan adalah konsep. Meski menghadirkan jenis kaus yang simpel, Footurama tetap melihat adanya peluang bagi mereka lewat konsep nama jalan yang dipilihnya. “Walaupun cuma kaus dengan tulisan nama-nama jalan, kalau konsepnya bisa menangin market yang kita tuju, itu bakal berhasil, sih,” kata Mogi.
Tantangan dari Dalam Negeri
Mendirikan merek lokal di Indonesia pun tak lepas dari tantangan. Aldi mengaku perhatian masyarakat terhadap merek lokal masih kurang. “Kayak di kota-kota gede, masyarakatnya masih pada pake brand luar,” jelasnya.
Tak hanya dari segi minat masyarakat Indonesia, menjaga kestabilan dari produk juga merupakan suatu tantangan. Apalagi mengingat perlunya mempertahankan kualitas yang baik dan layak jual. “Buat brand-nya gampang, mempertahankannya yang susah. Semoga Footurama bisa berkepanjangan dan ada terus,” ujar Mogi.
MATOA dan Footurama merupakan dua dari puluhan merek lokal yang menjadi bagian dari Pop Up Market 2016. Dengan diadakannya Pop Up Market, merek lokal diharapkan memiliki wadah untuk mengenalkan dan menjajakan produknya agar lebih menjangkau masyarakat.
Penulis: Agustina Selviana
Editor: Alif Gusti Mahardika
Foto: Evelyn Leo