KARAWACI, ULTIMAGZ.com – Dalam rangka menyambut mahasiswa baru, Universitas Pelita Harapan (UPH) kembali mengadakan acara tahunan UPH Festival 25, pada Rabu (15/08/18). Pada program Distinguished Guest Speaker (DGS) yang menjadi bagian rangkaian acara, UPH kedatangan dua orang menteri yang hadir untuk menyampaikan kuliah umum.
Para menteri tersebut adalah Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, serta Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. Mereka memberi kuliah umum seputar topik tantangan bangsa Indonesia saat ini, yakni kebhinekaan, kesatuan bangsa, dan isu industri 4.0.
Enggartiasto menyampaikan bahwa para mahasiwa baru adalah sebagian kecil masyarakat yang beruntung memperoleh pendidikan ‘lebih’.
“Kalian adalah sebagain yang mendapat keuntungan lebih daripada para pelajar yang tidak bisa mengenyam pendidikan setinggi ini. Maka dari itu, mahasiswa yang ada di sini alangkah baiknya tidak menyia-siakan waktu, lalai akan tanggung jawab, dan mengabaikan hal-hal penting lainnya,” tegas Enggartiasto.
Dirinya turut mengajak para mahasiswa untuk tidak pasif. Ia mendorong mereka berani keluar dari zona nyaman serta mau bercita-cita setinggi langit.
“Generasi muda harus mempunyai cita-cita, harus melihat dan memiliki keingian dan tujuan berkontribusi untuk kepentingan negara. Bukan untuk kepentingan pribadi saja tapi keuntungan untuk lingkungan sekitar,” tegasnya.
Sesuai dengan posisi yang dipegang, Airlangga memberi kuliah umum tentang revolusi industri keempat dan hal-hal yang perlu disiapkan untuk menghadapinya.

“Yang diperlukan seperti robotic, advanced data centre, artificial intelligence, kuliah umum ini sebagai motivasi ini untuk generasi muda Indonesia yang akan memimpin pasca 2030 hingga 2045 dengan kemampuan dan daya saing yang lebih baik Indonesia akan menjadi negara maju,” terang Airlangga.
Menteri Industri ini juga menjabarkan sektor-sektor industri masa depan yang perlu dipersiapkan. Beberapa di antaranya otomotif, elektronik, industri pangan, dan kimia tekstil.
“Persiapan dalam literasi globalisasi, teknologi, kemudian kompetensi tentang keindonesiaan seperti kebhinekaan, NKRI dan lainnya,” tambahnya.
Penulis: Theresia Amadea
Editor: Gilang Fajar Septian
Foto: Nadine K. Azura