• About Us
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Advertise & Media Partner
  • Kode Etik
Tuesday, March 3, 2026
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
No Result
View All Result
Home Hiburan Film

Kisah Björn Andrésen, Wajah yang Mengubah Industri Manga

Zalfa Zahiyah Putri Wibawa by Zalfa Zahiyah Putri Wibawa
March 3, 2026
in Film, Hiburan, Lainnya
Reading Time: 3 mins read
Potret Bjorn Andresen dari tahun ke tahun. (ocenews.it)

Potret Bjorn Andresen dari tahun ke tahun. (ocenews.it)

0
SHARES
5
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Björn Andrésen, seorang aktor yang dikenal melalui film klasik karya Luchino Visconti, Death in Venice (1971). Namun, sedikit yang menyadari bahwa aktor asal Swedia ini adalah sosok di balik standar ketampanan androgini yang mendominasi industri Jepang selama lebih dari lima dekade. 

Melansir nytimes.com, ketika Death in Venice (1971) dirilis, penampilan Andrésen sebagai Tadzio, dengan rambut pirang bergelombang dan fitur wajah yang halus, memikat publik Jepang. Pada awal 1970-an, ia mengunjungi Jepang untuk merekam beberapa lagu pop dan membintangi iklan televisi. Kunjungannya memicu histeria massa yang luar biasa, tetapi pengaruh yang paling mendalam justru terjadi di meja gambar para seniman manga.

Baca juga: Empat Tahun Hiatus, Ini Alasan Alysa Liu Kembali ke Dunia Seluncur Indah

Sebelum kehadiran Andrésen, karakter laki-laki dalam manga cenderung digambarkan dengan fitur yang sangat maskulin. Namun, para mangaka dari Year 24 Group (kelompok seniman perempuan revolusioner tahun 70-an) seperti Keiko Takemiya dan Moto Hagio, melihat Andrésen sebagai sebuah kecantikan baru yang melampaui gender, melansir yokogaomag.com.

Andrésen memberikan inspirasi untuk wajah pada konsep tragic beauty. Mata birunya yang tampak sedih dan postur tubuhnya yang ideal menjadi blueprint bagi hampir semua protagonis dalam genre Shoujo (manga untuk remaja perempuan).

Pengaruhnya tidak berhenti di tahun 1970-an. Wajah dan gayanya menginspirasi banyak karakter terkenal, seperti Lady Oscar dalam Rose of Versailles, Julius dalam Orpheus no Mado, dan Gilbert dalam Kaze to Ki no Uta. Ia membentuk gaya baru, bahwa kekuatan tidak harus terlihat dari tubuh yang berotot, tetapi bisa terlihat dari keanggunan seseorang.

Andrésen menghembuskan napas terakhir pada 25 Oktober 2025 di Stockholm, usia 70 tahun. Putrinya, Robine Roman, mengonfirmasi kepada media Swedia bahwa penyebabnya adalah kanker saat dirawat di rumah sakit.

Baca juga: Dari Wasteland ke Icon: Brent Faiyaz, Sonik, dan Konsep Baru

Dalam dokumenter The Most Beautiful Boy in the World (2021), Andrésen mengungkapkan bagaimana popularitas instan dan objektifikasi di Jepang sangat membebani hidupnya. Meski bagi Andrésen itu adalah masa yang sulit, bagi dunia seni, wajahnya telah membuka pintu bagi eksplorasi estetika yang lebih luas di Jepang. Penasaran akan kisah seorang Bjorn Andrésen? Ultimates dapat menonton trailer dokumentasi The Most Beautiful Boy in the World di bawah ini.

 

 

Penulis: Zalfa Zahiyah Putri Wibawa

Editor: Kezia Laurencia

Foto: ocenews.it

Sumber: nytimes.com, yokogaomag.com.

Tags: aktor andorginiaktor swediaandroginiAnimebjorn andresenDeath in Venicejepangkeiko takemiyaLuchino Viscontimangamoto hagioshoujoThe Most Beautiful Boy in the Worldyear 24 group
Zalfa Zahiyah Putri Wibawa

Zalfa Zahiyah Putri Wibawa

Related Posts

Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP)
Iptek

Awardee LPDP Viral Berujung Masuk Daftar Hitam Pemerintahan

March 2, 2026
Ilustrasi pawang hujan yang sedang melakukan ritual (ULTIMAGZ/Muara Ikhwan).
Budaya

Makin Nyeleneh: Ini 10 Pekerjaan Unik yang Cuma Ada di Indonesia

March 2, 2026
Junko Furuta
Iptek

Tragedi Junko Furuta: Luka Kolektif Jepang di Akhir 1980-an

March 2, 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

14 − eleven =

Popular News

  • wawancara

    Bagaimana Cara Menjawab Pertanyaan ‘Klise’ Wawancara?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Risa Saraswati Ceritakan Kisah Pilu 5 Sahabat Tak Kasat Matanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kisah Ivanna Van Dijk Sosok Dari Film ‘Danur 2 : Maddah’

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gading Festival: Pusat Kuliner dan Rekreasi oleh Sedayu City

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Merasa Depresi? Coba Cek 4 Organisasi Kesehatan Mental Ini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Pages

  • About Us
  • Advertise & Media Partner
  • Artikel Terbar-U
  • Beranda
  • Kode Etik
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Ultimagz Foto
  • Disabilitas

Kategori

About Us

Ultimagz merupakan sebuah majalah kampus independen yang berlokasi di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Ultimagz pertama kali terbit pada tahun 2007. Saat itu, keluarga Ultimagz generasi pertama berhasil menerbitkan sebuah majalah yang bertujuan membantu mempromosikan kampus. Ultimagz saat itu juga menjadi wadah pelatihan menulis bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) UMN dan non-FIKOM.

© Ultimagz 2021

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto

© Ultimagz 2021