SERPONG, ULTIMAGZ.com – Di tengah reruntuhan dan kepedihan perang, Zoulfa Katouh berhasil membawa pembaca untuk menyelami dunia yang hancur akibat perang. Melalui As Long As The Lemon Trees Grow, ia menuliskan kisah yang penuh empati dan menyayat hati.
Berlatar di tengah Suriah selama pemerintahan Bashar al-Ashad, buku ini menceritakan kehidupan seorang mahasiswi farmasi Salama Kassab yang berjuang di tengah kekacauan. Melansir kumparan.com, Salama merasakan pahit dan kelamnya hidup di bawah rezim diktator ketika ia kehilangan orang tua sekaligus Hamza, kakak yang sangat berarti baginya.
Baca juga: Jangan Lupakan Sejarah: Ini 3 Rekomendasi Buku tentang Masa Orde Baru
Di samping itu, Salama juga menghadapi trauma yang membekas dari masa lalunya melalui kehadiran Khawf, sosok halusinasi ketakutan dan rasa bersalah Salama. Dari kehadiran inilah pembaca diajak untuk mendalami keadaan psikologis tokoh utama dan merasakan dilema batin Salama.
As Long As The Lemon Trees Grow juga menyoroti hubungan emosional para pejuang perang dengan orang-orang yang dicintainya. Pada buku ini, Salama memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga kakak iparnya yang sedang hamil di tengah-tengah kewajibannya menyelamatkan korban perang, dilansir dari idntimes.com.
Sebelum menyelami kisah Salama dalam As Long As The Lemon Trees Grow, ada beberapa hal penting yang perlu Ultimates pahami agar pengalaman pembacanya lebih utuh. Salah satunya adalah latar konflik Suriah yang bermula pada Maret 2011 ketika warga Suriah menjalankan aksi protes damai di kota Daraa. Hal ini terjadi karena adanya penangkapan dan penyiksaan para pemuda yang menggambar grafiti anti-pemerintah, dilansir dari kompas.com.
Aksi protes ini terinspirasi dari fenomena Arab Spring yang muncul pada 2010 dan menjalar ke Suriah pada 2011 sehingga gerakan revolusioner melawan rezim Bashar al-Assad turut bangkit. Melihat aksi ini, pemerintahan yang dipimpin al-Assad bereaksi dengan kekerasan dan berujung pada penembakan, penangkapan, serta penyiksaan warga.
Lalu, pada Juli 2011, sekelompok tentara yang menolak keras otoritarianisme al-Assad membentuk Free Syrian Army (FSA) atau Tentara Pembebasan Suriah, dilansir dari bbc.com. Tujuan mereka adalah untuk melawan rezim dan melindungi warga Suriah dari kekejaman pemerintah.
Baca juga: Hikayat Kebo Sajikan Berita dalam Cerita
Latar belakang konflik inilah yang mendorong Zoulfa Katouh untuk menulis As Long As The Lemon Trees Grow. Dalam wawancaranya bersama teenvogue.com, Katouh mengungkapkan bahwa setelah pindah ke Swiss pada 2017, ia menyadari bahwa banyak orang yang hanya melihat pengungsi sebagai angka. Ia pun ingin menceritakan fakta keras perang Suriah melalui kisah manusiawi, karena di balik setiap pengungsi ada kehidupan yang utuh.
Sekarang, setelah tahu latar dan kisah di balik As Long As The Lemon Trees Grow, saatnya bagi Ultimates untuk membaca dan menyelami ceritanya. Selamat membaca, Ultimates!
Penulis: Radella Dagna
Editor: Jessica Kannitha
Foto: ULTIMAGZ/Radella Dagna
Sumber: kumparan.com, idntimes.com, kompas.com, teenvogue.com




