• About Us
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Advertise & Media Partner
  • Kode Etik
Friday, February 13, 2026
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
No Result
View All Result
Home Hiburan Literatur

Fahrenheit 451: When Reading Becomes the Crime

Belva Putri Paramitha by Belva Putri Paramitha
February 13, 2026
in Literatur
Reading Time: 2 mins read
Sampul buku Fahrenheit 451 karya Ray Bradbury. (source.com/photographer)

Sampul buku Fahrenheit 451 karya Ray Bradbury. (source.com/photographer)

0
SHARES
8
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Fahrenheit 451 merupakan novel klasik karya penulis Amerika, Ray Bradbury, yang pertama kali diterbitkan pada 1953. Hingga saat ini, karya Ray tersebut masih dianggap sebagai salah satu novel distopia paling berpengaruh dalam sejarah sastra dunia, sejajar dengan 1984 karya George Orwell dan Brave New World karya Aldous Huxley.

Novel ini bercerita tentang Guy Montag, seorang pemadam kebakaran di masa depan yang memiliki tugas unik untuk membakar buku. Dalam dunia Montag, membaca adalah tindakan ilegal. Hal ini dilakukan untuk menjaga kestabilan masyarakat karena membaca dianggap dapat menimbulkan pemikiran kritis dan perbedaan pendapat.

Baca Juga: Who Moved My Cheese? Buku Tentang Kebenaran Move On yang Mendunia

Kehidupan Montag mulai berubah ketika ia bertemu Clarisse, seorang gadis muda yang penuh rasa ingin tahu dan mempertanyakan hal-hal sederhana yang selama ini dianggap wajar. Pertemuan singkat itu mengguncang keyakinan Montag terhadap sistem yang ia layani. Perlahan, Montag mulai mempertanyakan kebahagiaannya sendiri, pekerjaannya, bahkan makna hidupnya.

Konflik memuncak ketika Montag mulai menyimpan dan membaca buku secara diam-diam. Tindakan itu menjadikannya buronan negara. Dalam pelariannya, Montag menemukan sekelompok orang yang juga berusaha melestarikan buku. Namun, bukan dengan menulisnya, melainkan dengan menghafalnya. Mereka percaya bahwa selama masih ada manusia yang mengingat kata-kata itu, pengetahuan tidak akan pernah benar-benar hilang.

Bradbury menghadirkan kisah ini dengan gaya bahasa yang puitis dan penuh simbolisme. Api tidak hanya melambangkan sebagai alat penghancur, tetapi juga lambang kebangkitan dan pencerahan. Melalui perjalanan Montag, pembaca diajak merenungkan bahaya ketika masyarakat menyerahkan kebebasan berpikir demi kenyamanan dan hiburan sementara.

Baca Juga: Novel The Midnight Library: Eksplorasi Depresi dan Pencarian Arti Hidup

Tema penyensoran, kebebasan berekspresi, dan kehilangan makna kemanusiaan menjadikan Fahrenheit 451 tetap relevan hingga kini. Dalam era media sosial dan banjir informasi, novel ini terasa seperti peringatan agar manusia tidak kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis dan merasakan secara mendalam.

Fahrenheit 451 cocok bagi pembaca yang menyukai cerita dengan muatan filosofis dan sosial yang kuat. Di balik kisah distopia yang menegangkan, tersimpan pesan mendalam tentang pentingnya pengetahuan dan keberanian untuk berpikir berbeda. Bradbury menulisnya bukan sekadar sebagai kritik terhadap masa depan, tetapi juga sebagai cermin bagi kita semua. Apakah Ultimates setuju dengan pendapat Bradbury?

Tags: Aldous HuxleyArtikelartikel 2026Brave New Worldbukubuku fahrenheit 451fahrenheit 451George OrwellGuy MontagMontag and ClarisseRay Bradburyrekomendasi buku
Belva Putri Paramitha

Belva Putri Paramitha

Related Posts

Sampul buku As Long As The Lemon Trees Grow karya Zoulfa Katouh. (ULTIMAGZ/Radella Dagna)
Literatur

Selami Harapan dan Konflik di Tengah Perang Suriah dengan As Long As The Lemon Trees Grow

February 11, 2026
Unggahan pengumuman penerbitan novel terjemahan Zhu Yi oleh Shira Media.
Literatur

Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, Intip Novel Zhu Yi dari Adaptasi Serial Drama

December 23, 2025
Kover buku No Longer Human. (nashuproar.org/Jess Daninhirsch)
Literatur

No Longer Human, Ungkapan Dazai Tentang Dilema Kemanusiaan

October 8, 2025

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seventeen + nine =

Popular News

  • wawancara

    Bagaimana Cara Menjawab Pertanyaan ‘Klise’ Wawancara?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Risa Saraswati Ceritakan Kisah Pilu 5 Sahabat Tak Kasat Matanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kisah Ivanna Van Dijk Sosok Dari Film ‘Danur 2 : Maddah’

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gading Festival: Pusat Kuliner dan Rekreasi oleh Sedayu City

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Merasa Depresi? Coba Cek 4 Organisasi Kesehatan Mental Ini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Pages

  • About Us
  • Advertise & Media Partner
  • Artikel Terbar-U
  • Beranda
  • Kode Etik
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Ultimagz Foto
  • Disabilitas

Kategori

About Us

Ultimagz merupakan sebuah majalah kampus independen yang berlokasi di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Ultimagz pertama kali terbit pada tahun 2007. Saat itu, keluarga Ultimagz generasi pertama berhasil menerbitkan sebuah majalah yang bertujuan membantu mempromosikan kampus. Ultimagz saat itu juga menjadi wadah pelatihan menulis bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) UMN dan non-FIKOM.

© Ultimagz 2021

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto

© Ultimagz 2021