SERPONG, ULTIMAGZ.com – Pernahkah Ultimates belajar dan harus terhenti karena malam telah tiba? Jika saat ini mudah bagi kita untuk menyalakan lampu, bagi seorang remaja di Filipina, ketiadaan listrik adalah tembok besar yang menghalangi mimpinya. Kisah inilah yang memicu Ann Makosinski, seorang remaja berusia 15 tahun asal Kanada untuk melakukan sesuatu yang luar biasa.
Terenyuh mendengar temannya gagal naik kelas karena tidak bisa belajar di malam hari, Ann tidak memberikan sumbangan lilin atau baterai. Ia justru pergi ke garasi rumahnya dan menciptakan solusi permanen, The Hollow Flashlight.
Baca juga: Empat Tahun Hiatus, Ini Alasan Alysa Liu Kembali ke Dunia Seluncur Indah
Melansir edition.cnn.com, banyak orang menganggap bahwa untuk menciptakan cahaya, kita butuh bahan bakar atau baterai kimia yang mencemari lingkungan. Namun, Ann melihat hal yang berbeda. Ia menganggap bahwa tubuh manusia adalah mesin. Secara konstan, tubuh kita memancarkan energi panas yang setara dengan lampu 100 watt.
Ann menggunakan prinsip fisika yang disebut Efek Termoelektrik. Ia memasang komponen bernama ubin Peltier pada senter buatannya. Cara kerjanya sangat cerdas, listrik dihasilkan ketika terjadi perbedaan suhu antara dua sisi ubin tersebut. Senter ini didesain berbentuk tabung berongga (hollow) agar udara dingin bisa mengalir di bagian dalam, sementara telapak tangan manusia memberikan panas di bagian luar, mengutip cbc.ca.
Baca juga: Ada Lovelace dan Warisan Kepemimpinan Perempuan di Dunia Teknologi
Perjalanan Ann tidaklah instan. Ia menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk bereksperimen dengan berbagai material dan sirkuit listrik yang sering kali gagal. Namun, ketekunannya membuahkan hasil. Senter ciptaannya mampu menghasilkan cahaya LED yang cukup terang hanya dengan genggaman tangan, tanpa baterai, tanpa suara, dan tanpa limbah.
Melansir cfi.co, inovasi ini membawanya memenangkan penghargaan di Google Science Fair 2013 dan menarik perhatian dunia. Ann membuktikan bahwa usia muda bukanlah halangan untuk memahami sains yang kompleks demi memecahkan masalah kemanusiaan yang nyata. Ann Makosinski mengajarkan bahwa tangan kita memiliki kekuatan lebih dari sekadar untuk menggenggam ponsel atau mengetik tugas. Dengan ide dan kreativitas, tangan kita bisa menjadi sumber cahaya bagi mereka yang membutuhkan.
Penulis: Zalfa Zahiyah Putri Wibawa
Editor: Kezia Laurencia
Foto: edition.cnn.com
Sumber: edition.cnn.com, cbc.ca, cfi.co




